Ulat Hongkong Garut

Ulat Hongkong Garut

Assalamu'alaikum. Pada halaman ini berisi artikel mengenai ternak ulat hongkong dan kumpulan gambar serta video dokumentasi terkait dengan kegiatan kami dalam belajar ternak ulat hongkong.

Ulat Hongkong Garut
Ulat Hongkong Garut

Tahapan Beternak Ulat Hongkong

Ulat hongkong atau mealworm sangat bermanfaat untuk burung kicauan dan juga hewan peliharaan lainnya. Pakan alami ini mempunyai banyak protein dan kalori yang dibutuhkan burung. Cara penyajiannya juga bervariasi, ada yang diberikan ketika ulat masih berwarna putih, sedang ganti kulit, atau diberikan dalam bentuk ulat hongkong kering.

Sebelum memulai beternak ulat hongkong, sebaiknya persiapkan beberapa bahan yang akan dipakai. Contohnya wadah tempat menyimpan ulat. Wadah ulat hongkong dapat menggunakan kontainer plastik, baik yang single maupun yang bersusun seperti laci.

Berikutnya, siapkan dedak atau bekatul yang menjadi media untuk berkembang biak dan bertelur bagi ulat hongkong tersebut. Dedak sekaligus berfungsi untuk mempertahankan kondisi kelembaban sehingga ulat hongkong tidak mudah mati.

Ulat hongkong yang akan diternakkan sebaiknya dipilih yang dewasa, dengan jumlah tergantung ukuran wadah atau kontainer plastik. Boleh juga memakai ulat hongkong yang sudah berubah menjadi kumbang (berwarna hitam).

Terakhir ialah mempersiapkan pakan untuk ulat hongkong ini. Ulat hongkong merupakan larva yang memakan apa saja. Tetapi untuk tujuan ternak, dan menjaga supaya ruangan tempat ulat ditangkarkan tidak mudah berjamur, pakan yang diberikan dapat berupa sepotong roti, potongan kentang, atau potongan buah-buahan (terutama apel).

Setelah semua bahan sudah tersedia, sekarang kita berlanjut ke beberapa tahap berikut ini:

Tahap 1
Masukkan dedak atau bekatul ke dalam wadah atau kontainer plastik, lalu ratakan pada bagian dasarnya dengan tinggi / tebal lapisan sekitar 1/4 dari ketinggian wadah yang digunakan. Sesudah itu, masukkan ulat-ulat yang akan dikembangbiakan. Jadi, dalam penjelasan ini, kita memulainya dari ulat hongkong dewasa, bukan langsung berupa kumbang.

Proses berkembang biak ulat hongkong menjadi kumbang membutuhkan waktu lama, dan perlu kesabaran untuk diperoleh hasil optimal. Karena itu, banyak juga yang memulai ternak ulat hongkong dengan memasukkan ulat hongkong yang sudah berubah menjadi kumbang supaya prosesnya lebih cepat.

Pakan yang diberikan dapat berupa potongan kentang atau potongan buah apel, walau ulat hongkong dapat memakan makanan apa saja. Pemberian apel dan kentang dimaksudkan untuk mencegah munculnya jamur akibat bahan pakan terlalu banyak mengandung air (misalnya sayuran).

Selanjutnya, wadah / kontainer plastik dapat disimpan ditempat yang gelap dan hangat. Jangan lupa melakukan kontrol setiap hari, terutama untuk memeriksa ketersediaan pakan, sekaligus membersihkan sampah bekas makanan ataupun bekas kulit dari ulat hongkong.

Tahap 2
Sesudah disimpan beberapa bulan (sekitar 90 hari), ulat-ulat akan berubah menjadi kepompong. Anda dapat tetap memelihara kepompong dalam wadah yang sama, dapat juga memindahkannya ke wadah/kontainer lain. Maksud pemindahan ini untuk menghindari ulat hongkong yang belum berubah jadi kepompong, karena ulat hongkong terkadang akan memakan teman-temannya yang sudah jadi kepompong, terutama bila mereka kekurangan pakan.

Bila ingin memelihara kepompong dalam wadah/kontainer plastik yang baru, media yang dipakai tetap sama, yaitu dedak / bekatul, dengan ketebalan secukupnya (tipis saja). Dalam ke wadah / kontainer baru, tugas Anda cukup menunggu saja, sebab kepompong tidak membutuhkan makanan apapun.

Tahap 3
Sekitar 10 hari kemudian, kepompong akan menunjukkan perubahan bentuk fisiknya menjadi serangga berwarna putih, yang sebenarnya adalah calon kumbang. Dari hari ke hari, warna putih ini akan berubah menjadi cokelat. Silakan dikontrol terus hingga warna serangga menjadi hitam, dan itulah yang disebut kumbang (Tenebrio molitor).

Bila sudah menjadi kumbang, Anda bisa memberikan pakan berupa potongan buah-buahan atau potongan roti.

Pindahkan kumbang-kumbang ke wadah lain, yang sudah diisi dengan media dedak/bekatul. Perbandingannya, takaran 4 gelas berisi kumbang memerlukan dedak sebanyak 2 kg. Dalam wadah inilah, kumbang akan memulai proses reproduksinya, seperti kawin dan bertelur.

Bila sudah bertelur, tunggu hingga 10 hari, lalu dilakukan pengayakan terhadap telur-telurnya. Saat mengayak, yang ikut terayak adalah telur dan dedak, namun kumbang tidak ikut terayak. Telur dan dedak dikembalikan ke wadah semula. Adapun kumbang dipindah ke wadah lain, dengan media dedak dan rasio yang sama seperti penjelasan sebelumnya (4 gelas kumbang membutuhkan 2 kg dedak).

Dalam wadah baru, kumbang akan bertelur kembali selama 10 hari. Silakan diayak kembali telur dan dedaknya, sedangkan para kumbang dipindah ke wadah baru. Demikian seterusnya, hingga kumbang sudah tidak bertelur lagi. Tanda kumbang sudah tak bertelur lagi ialah mati dengan sendirinya.

Bagaimana dengan telur-telur yang dipertahankan dalam wadah plastik? Mereka akan menetas menjadi larva, yang tidak lain adalah ulat hongkong. Sejak menetas, pakan yang diberikan kembali ke tahap pertama (potongan apel dan kentang). Biarkan hingga umur 50 hari. Saat itulah, ulat hongkong siap dipanen, untuk dipasarkan, atau dipakai sendiri, atau bisa juga dijadikan lagi sebagai materi dalam budidaya ulat hongkong.

Bagaimana Belajar Ternak Ulat Hongkong?
Salah satu cara belajar ternak ulat hongkong di internet adalah dengan membaca artikel mengenai budidaya ulat hongkong, melihat video tutorial ternak ulat hongkong dan bergabung/berdiskusi di grup komunitas peternak ulat hongkong, dimana kita bisa bertanya dan berbagi pengalaman seputar beternak ulat hongkong serta saling menjalin kerjasama dalam usaha, bisnis atau pemasaran ulat hongkong sebagai produk konsumsi sebagai pakan burung/hewan lainnya serta mendiskusikan mengenai bagaimana pengolahan ulat hongkong sebagai produk turunan sebagai ide inovasi dari pemanfaatan ulat hongkong.





Cara Pemasaran Ulat Hongkong

Setelah panen ternak ulat hongkong, kita bisa memasarkannya dengan cara menjualnya ke pengepul (bandar) atau menjual langsung ke pembudidaya burung kicau atau burung hias tentunya ini akan sangat menguntungkan. Selain itu kita bisa mengolah ulat hongkong menjadi produk ulat hongkong kering (dried mealworm) dan menjualnya dalam kemasan plastik, toples, dan kemasan menarik lainnya, bahkan dengan adanya sosial media serta marketplace, kita bisa memasarkannya secara online.

Harga Jual Ulat Hongkong

Kisaran harga untuk hasil ternak ulat hongkong saat ini ditentukan dalam hitungan per kg, dimana harga di pasaran untuk daerah Garut sendiri mulai dari Rp 60.000, Rp 70.000, Rp. 80.000, hingga Rp.100.000.


Keuntungan Menjalankan Usaha Ternak Ulat Hongkong

Keuntungan bila kita memilih peluang usaha budidaya ternak ulat hongkong, produk ulat hongkong ini masih merupakan pakan yang paling banyak dicari terutama oleh pecinta burung kicau serta penghobi ikan hias, hewan peliharan lainnya yang jumlah komunitasnya saat in semakin meningkat sesuai trend hobi terhadap hewan peliharaan.

Kekurangan/Kelemahan Usaha Budidaya Ternak Ulat Hongkong

Kekurangan/kelemahan dalam menjalankan Usaha Budidaya Ternak Ulat Hongkong diantaranya yaitu untuk saat ini perdagangan/pemasaran hasil ternak ulat hongkong memiliki tingkat persaingan yang tinggi dan ketat, dipengaruhi jumlah peternak serta daya serap konsumen/pembeli seperti pengepul, kios pakan burung/hewan ternak, penghobi burung, dan lain-lain.

Kepompong Ulat Hongkong - Garut
Kepompong Ulat Hongkong

Kepompong Ulat Hongkong - Garut
Kepompong Ulat Hongkong - Garut

Bibit Ulat Hongkong Garut
Bibit Ulat Hongkong - Garut



Ulat Tepung/Ulat Hongkong/Mealworm (Tenebrio molitor L.) - Tinjauan Pustaka

Ulat tepung (Tenebrio molitor) dikenal juga oleh kebanyakan masyarakat sebagai ulat hongkong. Ulat tepung merupakan kumbang yang memiliki warna merah kehitaman atau hitam (Purwakusuma, 2007) dan termasuk ke dalam ordo Coleoptera (Frost, 1959). Menurut Street (1999) taksonomi dari Tenebrio molitor yaitu:

Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insekta Ordo : Coleoptera Famili : Tenebriodae Genus : Tenebrio Spesies : Tenebrio molitor

Ordo Coleoptera merupakan ordo terbesar dari serangga, kurang lebih 40% dari seluruh jumlah serangga yang ada (Borror et al., 1982). Serangga ini aktif di malam hari dan sering menyerang makanan cadangan manusia seperti biji-bijian, sereal, dan lainnya (Purwakusuma, 2007). Borror et al. (1982) menjelaskan bahwa serangga yang termasuk ke dalam golongan Tenebrionid memiliki tipe mulut pengunyah dan senang berada di tempat yang gelap.

Morfologi dan Siklus Hidup Ulat Hongkong

Siklus hidup ulat hongkong terdiri dari empat tahap, yaitu telur, larva, kepompong (pupa) serta serangga dewasa dan siklus ini bisa berlangsung antara 3–4 bulan (Purwakusuma, 2007) melalui proses matamorfosis sempurna (Enchanted Learning, 2007). Menurut Sastrodihardjo (1984), serangga yang mengalami metamorfosis sempurna memiliki bentuk serangga muda (larva) sangat berbeda dengan serangga dewasa atau imago. Diantara stadium larva dan dewasa terdapat stadium pupa. Pada stadium pupa terjadi berbagai perubahan pada organ larva dan diganti dengan organ imago (dewasa) meskipun beberapa organ larva masih ada yang terbawa menjadi organ imago. Siklus hidup kumbang Tenebrio molitor dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Siklus Ulat Hongkong
Siklus Ulat Hongkong

Telur Ulat Hongkong

Telur serangga mempunyai bentuk yang beraneka ragam (Sastrodihardjo, 1984) yang pada umumnya berbentuk seperti kacang dalam bentuk gerombol atau sendiri-sendiri (Purwakusuma, 2007). Lyon (1991) menyatakan bahwa kumbang betina ulat tepung dapat mengeluarkan telur sebanyak 275 butir selama 22-137 hari. Besarnya telur serangga pada umumnya tidak melebihi 3,5 mm, sehingga seringkali tidak terlihat jelas (Pracaya, 1995). Telur dari kumbang ulat tepung memiliki panjang sekitar 1,2 mm (Paryadi, 2003). Kebanyakan telur serangga diletakkan dalam satu situasi dimana mereka memberikan sejumlah perlindungan sehingga pada waktu menetas akan mempunyai kondisi yang cocok bagi perkembangannya (Pracaya, 2007).

Cara bertelur serangga bervariasi, ada yang sekaligus menyelesaikannya dalam waktu sehari, ada juga yang berlangsung dalam beberapa hari dan ada juga serangga yang bertelur memakai jarak antara 2-5 hari (Pracaya, 1995). Telur-telur yang di keluarkan oleh kumbang betina T. molitor akan menetas menjadi ulat tepung kecil (fase larva) dalam waktu 4-14 hari (Lyon, 1991).

Larva Ulat Hongkong

Larva ulat tepung memiliki bentuk seperti cacing, halus, keras, memanjang (Lyon, 1991), berwarna kuning terang dengan panjang badan sekitar 35 mm dan lebar 3 mm (Hechunli, 2007). Larva tidak memiliki sayap, berbeda dengan nimfa pada proses metamorfosis sederhana (Pracaya, 1995) dan biasanya mempunyai 13-15 segmen yang berwarna coklat kekuning-kuningan (Salem, 2002). Umur larva biasanya berkisar antara 50-122 hari mulai dari awal menetas sampai sebelum menjadi pupa (Hechunli, 2007).

Setelah larva keluar dari telur, pertumbuhan selanjutnya akan terhalang oleh dinding tubuh yang keras. Hal ini yang menyebabkan terjadinya pergantian kulit (moulting) pada larva. Setelah berganti kulit, serangga akan bertambah besar dan berubah bentuk (Sastrodihardjo, 1984). Larva akan mengalami moulting antara 9-20 kali sebelum menjadi pupa (Lyon, 1991). Pergantian kulit pada serangga ditandai dengan serangkaian kejadian fisiologis yang dikaitkan dengan proses apolisis dan ekdisis. Apolisis secara khusus berkaitan dengan pelepasan secara bertahap epidermis anteroseptor dari kutikula, sedangkan ekdisis berkaitan dengan pengguguran kutikula lama (Hepburn, 1985).

Pupa Ulat Hongkong

Pupa merupakan salah satu tahapan hidup dari serangga yang mengalami metamorfosis sempurna. Fase pupa biasanya disebut juga sebagai fase diam (Uen, 2007) karena pada fase ini ulat berhenti makan dan jarang terlihat aktifitasnya, terkecuali jika ada gangguan dari lingkungan. Ditambahkan oleh Purwakusuma (2007) bahwa meskipun mereka terlihat tidak aktif, mereka akan tetap merespon berupa gerakan apabila disentuh, biasanya berupa gerakan memutar. Salem (2002) menjelaskan bahwa selama dalam fase pupa, terjadi perubahan dari larva menjadi dewasa.

Pupa dikenal juga sebagai fase yang terlihat tidak aktif dan tidak makan, sehingga akan terjadi penurunan bobot badan karena banyaknya energi yang digunakan untuk merombak struktur larva menjadi kumbang (Enchanted Learning, 2007). Lubis (2006) menyebutkan bahwa pupa memiliki rataan bobot badan sekitar 0,1348 g/ekor. Pada tahapan pupa, dibutuhkan waktu sekitar 7-24 hari sampai akhirnya pupa menjadi kumbang (Lyon, 1991). Akan tetapi, lamanya periode pupa juga bisa mencapai 30 hari pada suhu 15°C, 9 hari pada suhu 25°C dan 6 hari pada 35°C (Wikipedia, 2007b).

Imago (Serangga Dewasa)
Fase imago (dewasa) merupakan tahap perkembangan terakhir pada serangga setelah munculnya pupa pada proses metamorfosis sempurna. Pada fase ini, serangga akan mengalami kedewasaan organ kelamin dan pertumbuhan sayap (Wikipedia, 2007b). Coleoptera memiliki dua pasang sayap (Partosoedjono, 1985), sayap-sayap tersebut berkembang di bagian dalam selama tahapan pradewasa (Borror et al., 1982). Pasangan pertama disebut elytra (Partosoedjono, 1985), sayap ini menebal dan berfungsi sebagai pelindung sayap belakangnya (Pracaya, 1995). Satu pasangan sayap kedua tipis dan lebih panjang dari pasangan sayap petama, apabila dalam keadaan tidak terbang maka sayap tersebut dilipat (Partosoedjono, 1985). Meskipun kumbang ulat tepung memiliki sayap, akan tetapi kemampuannya untuk terbang kurang baik karena terganggu oleh adanya elytra (Pracaya, 2007).

Kumbang ulat tepung memiliki panjang antara 23-26 mm dan berwarna hitam kemerahan sampai hitam (Fossweb, 2007). Ketika baru keluar dari pupa, kumbang dewasa umumnya berwarna putih atau pucat (Borror et al., 1982) kemudian mengalami pengerasan dan berwarna lebih gelap (Amir dan Kahono, 2003).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Siklus Hidup Ulat Tepung / Ulat Hongkong / Mealworm / Tenebrio molitor

Suhu merupakan faktor penting yang mempengaruhi aktifitas serangga (Husaeni dan Nandika, 1989). Secara umum, serangga bersifat poikilothermi, yaitu suhu tubuhnya naik dan turun mengikuti suhu lingkungan (Triplehorn dan Johnson, 2005). Menurut Borror et al. (1982), suhu yang optimum untuk pertumbuhan serangga sekitar 26°C. Sementara menurut Haines (1991), ulat tepung mampu bertahan hidup pada kisaran suhu antara 25-27°C dengan kelembaban minimum 20%. Borror et al. (1982) menjelaskan bahwa ulat tepung mampu mengekstraksi uap air dari udara bila kelembaban melebihi 90%. Dengan demikian, kisaran kelembaban yang dapat ditolelir oleh ulat tepung adalah 20-90 %. Culin (2008) menjelaskan bahwa dengan semakin rendah suhu lingkungan, maka pertumbuhan ulat tepung akan  lambat, bahkan bisa mencapai enam bulan. Dengan demikian, adanya perbedaan suhu dapat mempengaruhi lamanya waktu yang dibutuhkan untuk satu siklus pertumbuhan.

Pertumbuhan Ulat Hongkong

Pertumbuhan merupakan adanya pertambahan sel (hyperplasia) dan peningkatan ukuran sel (hypertropi) (Maynard dan Loosli, 1956) yang biasanya dicerminkan dengan adanya pertambahan bobot badan (Bursell, 1970). Serangga memiliki kerangka luar (kutikula) yang harus dikelupaskan atau dilepaskan apabila serangga tumbuh karena kutikula ini akan membatasi ukuran suatu serangga (Borror et al., 1982; Bursell, 1970).

Dalam pertumbuhan serangga dikenal adanya moulting. Moulting merupakan mekanisme dasar pertumbuhan pada serangga yang dikondisikan dengan kutikula (Wiglesworth, 1792). Terjadinya moulting dikontrol oleh tiga hormon yaitu PTTH (hormon protorasikotropik), hormon juvenil dan hormon ekdison. Tahapan pergantian kulit dirangsang oleh pengeluaran PTTH (hormon protorasikotropik) atau hormon otak yang merangsang kelenjar-kelenjar protoraks atau kelenjar pertumbuhan untuk mengeluarkan ekdison. Ekdison sendiri berperan dalam merangsang apolisis dan mendorong pertumbuhan. Sedangkan hormon juvenil berperan dalam proses pupasi. Jika hormon juvenil tidak ada, maka larva akan berubah menjadi pupa (Borror et al., 1982).

Habitat Ulat Hongkong

Serangga T. molitor mempunyai sebaran luas hampir di seluruh permukaan bumi (Purwakusuma, 2007). Kehidupan beberapa serangga sangat dipengaruhi oleh kelembaban tempat hidupnya. Akan tetapi, serangga dapat bertahan hidup pada kelembaban yang ekstrim karena serangga mampu menyeimbangkan kadar air tubuh dengan kadar air lingkungannya (Bursell, 1970). Larva T. molitor mampu mengekstraksi uap air dari udara bila kelembaban secara relatif melebihi 90% (Borror et al., 1982).

Sebagai hama, ulat tepung sering ditemukan dalam gudang, fasilitas penyimpanan biji-bijian dan tempat penyimpanan makanan. Organisme ini lebih untung jika hidup dekat dengan manusia, karena secara tidak sengaja kita menyediakan lingkungan yang lebih baik untuk kehidupannya bila dibandingkan jika mereka hidup di alam bebas (Fossweb, 2007).

Reproduksi Ulat Hongkong

Reproduksi merupakan suatu hal yang istimewa yang secara fisiologis tidak esensial untuk kehidupan individu, tetapi sangat penting dalam memperoleh keturunan (Elzinga, 2004). Kumbang Tenebrio molitor memiliki tiga tahapan perkawinan. Pada tahap pertama, jantan mengejar betina sampai betina kelelahan dan menyerah. Kemudian jantan menaiki betina dan membengkokkan perut bagian belakangnya ke bawah dan dimasukan ke dalam betina. Tahapan terakhir dari perkawinan tersebut adalah adanya sperma yang dikeluarkan dari jantan ke betina (Wikipedia, 2007b). Worden dan Parker (2001) menjelaskan bahwa lamanya waktu perkawinan yang normal pada kumbang ulat tepung yaitu pada kisaran 45-120 detik.

Fungsi alamiah dari seekor jantan adalah menghasilkan sel-sel kelamin jantan atau spermatozoa yang hidup, aktif dan potensial fertil serta secara sempurna meletakkannya ke dalam saluran kelamin betina (Toelihere, 1981). Selain itu, alat kelamin jantan dilengkapi dengan clasper atau alat yang digunakan untuk memegang betina (Pracaya, 1995). Selain jantan, betina juga memegang peran penting dalam proses reproduksi karena betina menghasilkan sel telur dalam jumlah yang banyak (Sastrodihardjo, 1984) dan dilengkapi dengan ovipositor (alat untuk memasukkan telur ke dalam tanah atau jaringan tanaman) (Pracaya, 1995).

Jenis kelamin serangga kadang-kadang tidak bisa dibedakan dari luar karena perbedaannya hanya sedikit sekali (Pracaya, 1995). Pada umumnya serangga biasanya bisexual yaitu terdapat jantan dan betina pada dua individu yang terpisah (Partosoedjono, 1985). Dalam hal ini, serangga betina hanya bersifat menerima sperma dari jantan dan karena umurnya yang singkat, menyebabkan serangga melakukan perkawinan dengan banyak jantan (poliandri) (Drnevich et al., 2000).

Betina yang kawin dengan lebih dari satu jantan akan menerima dua keuntungan yaitu keuntungan secara material maupun genetik, dan kedua jenis keuntungan ini sangat sulit untuk dibedakan (Worden dan Parker, 2001). Drnevich et al. (2000) menjelaskan bahwa secara umum, keuntungan meterial dapat meningkatkan produktifitas betina secara langsung yaitu melalui peningkatan jumlah atau ukuran telur. Sedangkan keuntungan genetik akan meningkatkan produktfitas betina secara tidak langsung yaitu melalui peningkatan kualitas genetik keturunannya.

Alat kelamin serangga biasanya terdapat pada ujung perut, persisnya pada ruas kedelapan atau kesembilan. Pada serangga jantan struktur yang berkembang adalah dari ruas ke-10 yang berfungsi untuk kopulasi, sedangkan pada yang betina yaitu dari ruas ke-8 dan ke-9 terutama untuk bertelur. Struktur kelamin luar tersebut bila tidak dipakai akan ditarik masuk ke dalam sehingga tidak dapat dilihat dari luar (Partosoedjono, 1985). Perbedaan jenis kelamin pada kumbang ulat tepung terlihat pada bagian ujung perutnya atau pada beberapa segmen terakhir dari perutnya. Kumbang betina memiliki sedikit pemisah diantara tiga bagian segmen perut paling ujung dan hampir tidak terlihat. Sedangkan pada jantan memiliki membran intersegmental yang berwarna terang (Bhattacharya dan Waldbauer, 1970).

Mortalitas Ulat Hongkong

Mortalitas merupakan salah satu parameter yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan dari suatu usaha peternakan. Hutauruk (2005) menjelaskan bahwa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya mortalitas adalah stres yang tinggi akibat suhu dan kelembaban udara yang tidak sesuai, jumlah populasi atau kepadatan dan tempat pemeliharaan serta manajemen pemeliharaan yang kurang baik. Hampir semua serangga sensitif terhadap panas (Marlanti, 2006). Culin (2005) menambahkan bahwa semakin rendah suhu lingkungan akan menyebabkan terlambatnya perkembangan ulat tepung, bahkan bisa mencapai enam bulan. Sementara suhu yang tinggi akan menyebabkan peningkatan mortalitas.

Sistem Pemeliharaan Ulat Hongkong (Tenebrio molitor)

Memelihara dan mengembangbiakkan ulat tepung sangat mudah. Untuk awal pemeliharaan, ulat tepung (dalam bentuk larva) bisa dibeli di pasar-pasar burung dan pakan. Biasanya, larva ulat tepung yang dijual berukuran 1-2 cm dan membutuhkan waktu kira-kira satu bulan untuk menjadi kumbang. Kumbang ulat tepung biasanya ditempatkan pada wadah-wadah plastik (untuk pemeliharaan dalam skala kecil) atau pada kotak kayu (dengan ukuran panjang 80 cm; lebar 60 cm; tinggi 6-7 cm untuk skala besar). Bagian atas tempat pemeliharaan dibiarkan terbuka dan pada dinding bagian atasnya dilapisi lakban plastik agar larva maupun kumbang ulat tepung tidak keluar (Karjono, 1999).

Sebagai pakannya, biasanya ditambahkan 1-3 cm pakan ayam komersial yang sekaligus menjadi media hidup ulat tepung. Dapat juga digunakan campuran onggok dan ampas tahu (di Indonesia), gandum, tepung roti atau sereal (di Luar Negeri). Tambahan sayuran dan buah-buahan digunakan untuk memenuhi kebutuhan air ulat tepung. Akan tetapi jika menggunakan ampas tahu, penambahan sayuran atau buah-buahan dalam pakan tidak diharuskan (Tricia`s Water Dragon, 2006; Karjono,
1999).

Untuk media bertelur, biasanya ditambahkan kapas setebal 1 cm atau potongan kayu yang berlubang yang diletakkan di atas lapisan pakan. Kemudian kumbang betina ulat tepung akan meletakkan telurnya pada media pakan, kapas atau potongan kayu berlubang. Pemindahan Induk kumbang dilakukan setiap 10 hari sekali pada tempat yang berbeda sampai kumbang tersebut mati. Setelah larva mulai terlihat, larva diayak dan dibagi kedalam dua tempat untuk seterusnya dipelihara. Pada saat pemeliharaan larva, tidak perlu ditambahkan kapas atau potongan kayu berpori. Larva-larva yang dipelihara akan berubah menjadi pupa kemudian pupa menjadi kumbang. Setelah dewasa, kumbang-kumbang ini akan melakukan perkawinan dan menghasilkan telur (Tricia`s Water Dragon, 2006; Karjono, 1999).

Belum ada Komentar untuk "Ulat Hongkong Garut"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel