Konsentrat Ulat Hongkong untuk Pakan Ayam

Berikut ini adalah rangkuman mengenai Konsentrat Ulat Hongkong untuk Pakan Ayam yang meliputi Percobaan Pemberian Konsentrat Ulat Hongkong untuk Pakan Ayam Pejantan Broiler, Pembuatan Konsentrat Ulat Hongkong untuk Pakan Ayam, Kajian  Konsentrat  Protein  Ulat  Hongkong  (Tenebrio molitor L) sebagai Bahan Pakan Pengganti Meat Bone Meal pada Pakan Ayam.

Konsentrat Ulat Hongkong untuk Pakan Ayam
Konsentrat Ulat Hongkong untuk Pakan Ayam

Konsentrat Ulat Hongkong untuk Pakan Ayam Pejantan Broiler

Bahan pakan untuk unggas masih banyak hasil impor, khususnya bahan pakan sumber protein seperti bungkil kedelai, tepung ikan dan meat bone meal (MBM). Tingginya harga tepung ikan berdampak pada penggunaan MBM yang merupakan produk 100% impor, sehingga diperlukan bahan alternatif lain yang berpotensi dan dapat menggantikan penggunaan MBM. Penggunaan serangga dibeberapa negara Eropa maupun Asia sudah banyak diaplikasikan tidak hanya sebagai pakan ternak, tetapi sudah mulai dikonsumsi manusia, salah satunya adalah ulat hongkong (Tenebrio molitor L). Ulat hongkong adalah larva dari kumbang beras yang memiliki nutrien cukup tinggi, seperti protein kasar 47.2-60.3% dan lemak 31.1-43.1%. Selain nutrien yang tinggi, ulat hongkong memiliki siklus hidup yang pendek dan mudah dalam memproduksinya. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penggunaan ulat hongkong dalam pakan mampu memperbaiki performa ayam broiler dan tidak menimbulkan dampak negatif. ''

Tujuan penelitian ini adalah mengkaji ulat hongkong yang telah diekstrak lemaknya menjadi konsentrat protein sehingga dapat menjadi bahan pakan sumber protein pengganti meat bone meal yang mampu menghasilkan performa dan kualitas karkas ayam broiler. Penelitian ini menggunakan 2 perlakuan yaitu R0, pakan mengandung meat bone meal dan R1, pakan mengandung konsentrat protein ulat hongkong. Variabel yang diamati dalam penelitian ini yaitu sifat fisik dan kimia konsentrat protein ulat hongkong, net protein utilization (NPU), performa (konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, bobot badan akhir, konversi pakan dan mortalitas), persentase potongan komersil, meat bone ratio and persentase potongan non carcass ayam broiler. 

Hasil penelitian menunjukkan konsentrat protein ulat hongkong memiliki ukuran partikel yang tergolong kasar dengan kandungan nutrien yang cukup tinggi seperti protein kasar 54.73%. Selain itu, konsentrat protein ulat hongkong mengandung asam amino lengkap dengan skor kimia sebesar 13.27% dan indeks asam amino esensial sebesar 20.18%. NPU konsentrat protein ulat hongkong sebesar 38.87%, lebih rendah bila dibandingkan NPU meat bone meal yaitu 57.68%. 

Performa ayam broiler yang diberi konsentrat protein ulat hongkong cenderung lebih tinggi bila dibandingkan dengan meat bone meal. Bobot badan akhir ayam broiler yang diberi ransum mengandung konsentrat protein ulat hongkong sebesar 1644.50 g/ekor dengan persentase dada 3.29% lebih tinggi dibandingkan penggunaan meat bone meal dalam ransum broiler. 

Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan 5% konsentrat protein ulat hongkong dalam pakan broiler mampu menyamai penggunaan 5% meat bone meal dalam menghasilkan performa dan kualitas karkas khususnya persentase dada ayam broiler. Konsentrat protein ulat hongkong dapat direkomendasikan sebagai pengganti meat bone meal dalam pakan broiler.

Latar Belakang 

Industri peternakan saat ini terus mengalami peningkatan, karena masyarakat mulai sadar akan pentingnya sumber protein hewani seperti telur, susu dan daging. Salah satu sumber protein hewani yang cukup digemari oleh masyarakat di Indonesia adalah daging ayam. Daging ayam merupakan produk unggas yang mengandung nilai gizi dan daya cerna tinggi, serta mudah dalam pengolahan. Pada tahun 2012 konsumsi daging ayam di Indonesia mencapai 3.65 kg perkapita pertahun, meningkat menjadi 3.74 kg perkapita pertahun pada tahun 2013 dan pada tahun 2014 kosumsi daging ayam mencapai 4.13 kg perkapita pertahun (BPS 2015). Konsumsi ini akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Akan tetapi, adanya kendala pakan yang dapat menghabiskan 70-80% dari total biaya produksi mengakibatkan produksi daging ayam kurang maksimal sehingga harganya sering berfluktuatif. Bahan pakan unggas umumnya masih impor, salah satunya bahan pakan sumber protein seperti tepung ikan, bungkil kedelai, dan meat bone meal (MBM). Tingginya harga tepung ikan akan berdampak pada penggunaan MBM yang tinggi dan MBM merupakan produk 100% impor dengan level penggunaan dalam ransum 4-6%. Indonesia dikenal sebagai negara agraris seharusnya mempunyai potensi besar dalam penyediaan bahan pakan lokal baik yang berasal dari tanaman maupun hewan sehingga ketersediaan pakan ternak terjamin dan biaya impor dapat dikurangi. Impor yang terus menerus tentunya akan mengurangi cadangan devisa negara dan menyebabkan industri nasional rentan terhadap gejolak kurs, serta jika tidak diatasi akan menjadikan ketergantungan negara kita terhadap negara lain. 

Di Eropa serangga sudah banyak dipergunakan tidak hanya sebagai pakan ternak tetapi juga konsumsi manusia, sedangkan di Asia seperti Thailand produksi serangga sudah mulai banyak digunakan sebagai pakan ayam (Durst dan Hanboonsong 2015). Penelitian Siemianowska et al. (2013) menyebutkan bahwa serangga berpotensi sebagai sumber makanan yang bergizi tinggi bagi manusia dan ternak karena mengandung sumber protein yang cukup tinggi seperti yang terdapat pada ikan dan daging. Makkar et al. (2014) meninjau beberapa penelitian dengan produk serangga sebagai pakan dan menemukan 24 percobaan (17 dari Afrika, 4 dari Asia dan 3 dari Amerika Serikat) menggunakan larva lalat rumah (maggot meal) dan 9 penelitian dari India menggunakan silkworm, hasil menunjukkan bahwa tepung ikan, bungkil kedelai dan bungkil kacang tanah dapat digantikan hingga 100% dengan protein serangga. 

Larva Tenebrio molitor L atau yang lebih dikenal sebagai ulat hongkong merupakan larva dari kumbang beras. Selain itu, ulat hongkong mempunyai sebutan khusus yaitu mealworm atau yellow mealworm. Secara ekonomis T.molitor mempunyai nilai positif, khususnya ketika dalam fase larva sebagai ulat hongkong, karena mudah diternakan dibandingkan jenis serangga lain dan dijadikan komoditi yang diperjual-belikan sebagai sumber makanan ikan, reptil, amfibi dan juga burung. Pada fase dewasa, sebagai kumbang mempunyai nilai negatif karena merusak biji-bijian dan makanan simpanan manusia (Ramos-Elorduy et al. 2002). De Foliart et al. (2009) melaporkan bahwa serangga seperti ulat hongkong mengandung nutrien yang cukup unggul meliputi protein, lemak dan karbohidrat. Kandungan nutrien ulat hongkong diantaranya protein kasar 47.2-60.3%, lemak kasar 31.1-43.1%, karbohidrat 7.4–15% dan abu 1.0–4.5% (Makkar et al. 2014). 

Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kandungan protein kasar ulat hongkong sebesar 45.87 %, lebih tinggi 2.93% dari protein meat bone meal (MBM) (Purnamawati et al. 2016). Akan tetapi, penggunaan ulat hongkong yang terlalu tinggi dalam pakan ayam broiler mengakibatkan performa ayam menurun pada hasil penelitian sebelumnya. Hal ini terlihat dari penggunakan tepung ulat hongkong pada level 5% mengakibatkan performa ayam menurun, tetapi pada penggunaan 2.5% tepung ulat hongkong performa ayam broiler sama dengan penggunaan 5% MBM, begitu juga dengan hasil pengukuran energi metabolisnya. Energi metabolis ayam broiler dengan ransum 2.5% tepung ulat hongkong sebesar 3282 Kkal kg-1, sedangkan pada pakan 5% MBM 2988 Kkal kg-1 (Nahrowi et al. 2015). Hal tersebut diduga adanya kandungan kitin yang mengikat nutrien tepung ulat hongkong yaitu protein dan lemak, sehingga tidak termanfaatkan secara optimal. 

Dilakukan sebuah uji coba pengekstraksian terhadap ulat hongkong yang menghasilkan lemak dan hasil samping berupa konsentrat protein karena mengandung protein kasar sebesar 54.73% dan serat kasar 8.85%. Amoo et al. (2006) menyatakan bahan pakan dapat dikatakan sebagai konsentrat protein jika nutrien selain protein telah dikeluarkan dan mengandung protein kasar lebih dari 20% dan rendah akan serat yaitu dibawah 18%. 

Oleh sebab itu merujuk pada hasil tersebut diperlukan adanya teknologi pengolahan terlebih dahulu yaitu melalui proses ekstraksi pada ulat hongkong agar menghasilkan bahan pakan sumber protein hewani yang berkualitas dan mampu bersaing dengan pakan sumber protein lainnya, salah satunya yaitu meat bone meal (MBM). 

Tujuan Penelitian
  1. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari sifat fisik dan kimia dari konsentrat protein ulat hongkong (Tenebrio molitor L). 
  2. Menentukan nilai net protein utilization (NPU) konsentrat protein ulat hongkong (Tenebrio molitor L) pada ayam broiler. 
  3. Mengkaji konsentrat protein ulat hongkong (Tenebrio molitor L) sebagai bahan pakan sumber protein pengganti meat bone meal dalam menghasilkan performa dan daging ayam broiler yang berkualitas. 

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah merekomendasikan penggunaan konsentrat protein ulat hongkong (Tenebrio molitor L) dalam ransum ayam broiler dan menambah informasi ilmiah tentang kajian ulat hongkong (Tenebrio molitor L) pada broiler. 

Waktu dan Lokasi 

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2016 sampai dengan September 2016. Pemeliharaan ayam dilakukan di Laboratorium Lapang (Kandang C), analisis kandungan nutrien dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan dan analisis karkas dilakukan di Laboratorium Ilmu Nutrisi Unggas Fakultas Peternakan IPB. 

Alat

Penelitian ini menggunakan kandang sistem litter beralaskan sekam padi. Kandang menggunakan tirai yang tidak tertutup sepenuhnya (saat suhu kandang melebihi batas normal penutup kandang dibuka) sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran udara dengan lancar dan ukuran kandang ini 1 m x 1 m sebanyak 23 petak. Kandang pada masing-masing petak dilengkapi dengan tempat pakan dan tempat air minum. Peralatan lain yang digunakan adalah timbangan, tirai, sapu, thermohigrometer, brooder (pemanas), dan exhaust fan. 

Bahan

Penelitian ini menggunakan DOC (Day Old Chick) broiler jantan dengan merk MB 202 (strain New Lohman) dari PT Japfa Comfeed Indonesia sebanyak 30 ekor untuk uji net protein utilization (NPU) yang terdiri atas 3 perlakuan dengan masing-masing 10 ekor broiler, sedangkan untuk feeding trial menggunakan 200 ekor yang dibagi ke dalam 2 perlakuan dan 10 ulangan, dimana setiap ulangan terdiri atas 10 ekor broiler. Ransum yang digunakan untuk pengukuran NPU adalah ransum yang disusun dari bahan-bahan yang terdiri atas tepung tapioka, tepung gula, DCP, minyak kelapa sawit, premix, meat bone meal dan konsentrat protein ulat hongkong. Adapun bahan-bahan yang digunakan untuk feeding trial adalah jagung, bungkil kedelai, dedak, meat bone meal, konsentrat protein ulat hongkong, CPO, CaCO3, premix, NaCl, L-Lysin dan DL-Methionin. 

Komposisi bahan pakan untuk pengujian NPU disajikan dalam Tabel 1, terdiri atas ransum starter, pakan bebas protein dan pakan yang akan diuji kualitas proteinnya. Penyusunan pakan bebas protein sulit untuk dilakukan karena bahan pakan yang digunakan masih mengandung protein walau sedikit, sehingga diganti dengan pakan mengandung sangat rendah protein. Komposisi bahan pakan untuk feeding trial disajikan dalam Tabel 2. Pakan disusun berdasarkan referensi buku Commercial Poultry Nutrition Leeson dan Summers (2008). 

Perlakuan Penelitian 

Perlakuan untuk pengukuran NPU adalah sebagai berikut. 
P0 : Pakan rendah protein kasar (PK) 
P1 : Pakan dengan kandungan 10% protein kasar (PK) yang berasal dari meat bone meal 
P2 : Pakan dengan kandungan 10% protein kasar (PK) yang berasal dari konsentrat protein ulat hongkong 

Perlakuan untuk feeding trial adalah sebagai berikut. R0 : Pakan dengan 5% meat bone meal R1 : Pakan dengan 5% konsentrat protein ulat hongkong 

Prosedur Percobaan 

Pembuatan konsentrat protein ulat hongkong

Ulat hongkong segar dilakukan pembersihan terlebih dahulu dari sisa pakan, kotoran dan kulit yang terkelupas. Selanjutnya, ulat hongkong diekstrak menggunakan metode yang dimodifikasi dari Meeker dan Hamilton (2006) dan Andarwulan et al. (2006) yaitu melalui proses rendering. Ekstraksi dimulai dari pengukusan dengan suhu 80 - 90◦C selama 40 menit, perbandingan air dengan ulat hongkong adalah 1:3. Kemudian kukusan ulat hongkong tersebut didinginkan dan selanjutnya di press menggunakan alat pengepresan untuk mengeluarkan lemak dari tubuh ulat hongkong tersebut. Hasil samping setelah keluar minyak dari ulat hongkong tersebut adalah berupa tubuh ulat hongkong yang mengandung protein cukup tinggi. Hasil samping tersebut dikeringkan menggunakan oven bersuhu 60◦C atau dengan bantuan sinar matahari. Setelah kering, hasil samping tersebut digiling menjadi tepung. 

Tahapan Pembuatan Pakan

Pembuatan pakan NPU tersusun dari bahan-bahan yang terdiri atas tepung tapioka, tepung gula, DCP, minyak kelapa sawit, premix, meat bone meal dan konsentrat protein ulat hongkong. Pemberian pakan tersebut dilakukan ketika ayam berumur 15 hari, sebelumnya ayam diberi pakan komersil (starter). Adapun bahan- bahan yang digunakan untuk feeding trial adalah jagung, bungkil kedelai, dedak, meat bone meal, konsentrat protein ulat hongkong, CPO, CaCO3, premix, NaCl, L- Lysin dan DL-Methionin. Pakan tersebut diberikan sejak ayam periode starter sampai finisher. Penyusunan kebutuhan ransum ayam broiler berdasarkan Leeson dan Summer (2008). 

Tahap Persiapan Pemeliharaan 

Kandang dan peralatannya didesinfeksi menggunakan desinfektan. 230 ekor DOC ayam broiler jantan ditempatkan pada 23 unit kandang berukuran 1 m2 secara acak. Tiap kandang berisi satu tempat pakan dan satu tempat minum, serta lantai kandang menggunakan alas berupa sekam dan dilapisi kertas koran. Pada masa brooding, DOC diberi lampu bulb 60 watt yang berfungsi sebagai penerangan dan penghangat. 

Tahap Pelaksanaan Pemeliharaan

Pemberian pakan dan air minum dilakukan secara ad libitum sampai umur 35 hari. Jumlah pakan yang diberikan dan sisa pakan ditimbang setiap minggu untuk menentukan konsumsi pakan. Penimbangan bobot badan akan dilakukan setiap minggu untuk mengetahui bobot badan dan menghitung pertambahan bobot badan. 

Prosedur Pengukuran Parameter 

Pengukuran sifat fisik dan kimia 

Hasil samping yang telah menjadi tepung atau dapat disebut konsentrat protein ulat hongkong, selanjutnya dianalisis sifak fisik dan kimia. Adapun uji sifat fisik terdiri atas kerapatan tumpukan (KT), kerapatan pemadatan tumpukan (KPT), berat jenis (BJ), sudut tumpukan (ST) dan ukuran partikel (UP). Perhitungan sifat fisik tersebut berdasarkan persamaan Khalil (1999). 

1. Kerapatan Tumpukan 

Bahan sebanyak 10 g dimasukkan ke dalam gelas ukur 100 ml, kemudian volumenya diukur untuk mengetahui besarnya kerapatan tumpukan. Perhitungan kerapatan tumpukan menggunakan persamaan Khalil (1999) dengan satuan yang dimodifikasi dari kg m-3 menjadi g L-1 : 
Kerapatan tumpukan = bobot bahan (g) / volume yang ditempati (L)

2. Kerapatan Pemadatan Tumpukan 

Bahan dimasukkan ke dalam gelas ukur 100 ml sebanyak 10 g dengan corong. Dilakukan proses pemadatan dengan cara menggoyang-goyangkan gelas ukur secara manual sampai volume tidak berubah lagi. Volume diukur setelah pemadatan. Kerapatan pemadatan tumpukan dihitung dengan persamaan Khalil (1999) : 
Kerapatan tumpukan = bobot bahan (g) / volume ruang setelah dipadatkan (L)

3. Berat Jenis 

Berat jenis diukur dengan menggunakan prinsip hukum Archimedes, yaitu dengan melihat perubahan volume aquades pada gelasukur 100 ml setelah dimasukkan bahan-bahan yang massanya 10 g ke dalam gelas ukur 100 ml yang berisi aquades 70 ml, kemudian dilakukan pengadukan untuk mempercepat jalannya udara antar partikel bahan selama pengukuran. Perhitungan berat jenis menggunakan persamaan Khalil (1999) dengan satuan yang dimodifikasi dari g ml-1 menjadi kg l-1 : 

Berat jenis = bobot bahan (kg) / perubahan volume aquades (L)

4. Ukuran Partikel Ukuran partikel diukur menggunakan teknik Ukuran partikel diukur dengan menggunakan teknik yang digunakan dalam menentukan derajat kehalusan (Modulus of Finenes), derajat keseragaman (Modulus of Uniformity) dan ukuran partikel suatu bahan yaitu menggunakan vibrator ball mill nomor sieve 4, 8, 16, 30, 50, 100, dan 400. Bahan ditimbang sebanyak 500 g lalu diletakkan pada sieve teratas lalu dilakukan penyaringan bahan yang tertinggal pada tiap ayakan dengan cara digetarkan. Derajat kehalusan (Modulus of Finenes/MF) bahan diperoleh dengan menjumlahkan hasil perkalian antara persentase bahan yang tertinggal di sieve dengan nomor perjanjian/nomor sieve, sesuai dengan persamaan menurut Khalil (1999) : Derajat kehalusan (Modulus of Finenes) 

𝑀𝐹 = Σ(%bahan tertinggal pada tiap mesh x No perjanjian) / 100

Kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan konsentrat protein ulat hongkong lebih rendah bila dibandingkan dengan meat bone meal. Hal ini menunjukkan bahwa protein konsentrat ulat hongkong lebih voluminus dibandingkan meat bone meal (MBM). Kerapatan tumpukan berpengaruh terhadap laju alir dan daya campur, sama halnya dengan berat jenis. Kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan pada dasarnya sama, hanya proses pemadatannya yang berbeda. Nilai kerapatan pemadatan tumpukan makanan yang berbentuk bubuk umumnya antara 0.3-0.8 g/cm3 atau 300-800 g/L (Wirakartakusumah et al.1992). Selain itu dapat dilihat juga dari besarnya sudut tumpukan dan berat jenis, dimana sudut tumpukan konsentrat protein ulat hongkong 8.2% lebih besar dari meat bone meal dan berat jenis konsentrat protein ulat hongkong yang lebih rendah, menandakan konsentrat protein ulat hongkong lebih bergerak bebas. Hal ini dikarenakan tubuh ulat hongkong diselimuti oleh kulit luar (eksoskeleton) yang ringan dan banyak mengandung serat berupa kitin, yaitu protein berserat tak larut air (Klunder et al. 2012). Hal tersebut juga terlihat dari kandungan nutriennya, dimana konsentrat protein ulat hongkong mengandung serat dan protein kasar yang lebih besar, yaitu 8.85% dan 54.73%, sedangkan meat bone meal sebesar 5.79% dan 52.31%. Hao et al. (2015) menyatakan bahwa kerapatan tumpukan atau bulk density berkorelasi negatif terhadap serat kasar, dimana setiap peningkatan kerapatan tumpukan akan menurunkan kadar serat kasar. Selain protein kasar dan serat kasar, ternyata konsentrat protein ulat hongkong mengandung lemak yang lebih tinggi dari meat bone meal, menandakan bahwa di dalam konsentrat protein ulat hongkong tidak murni protein, tetapi masih ada nutrien lain yang terkandung. 

Ukuran partikel konsentrat protein ulat hongkong berdasarkan derajat keseragaman (Modulus of Uniformity) termasuk dalam kategori kasar. Fasina dan Sokhansaj (1993) menyatakan bahwa kategori ukuran partikel suatu bahan terdiri dari halus apabila ukuran partikelnya 0.10–0.78 mm, kategori sedang apabila ukuran partikelnya lebih besar 0.78 –1.79 mm dan kategori kasar apabila ukuran partikelnya lebih besar dari 1.79–13.33 mm. Pakan dengan ukuran partikel kasar akan tersimpan di gizzard sampai ukuran mengecil dan dapat masuk ke saluran duodenum (Safaa et al. 2009). Ukuran partikel tergantung dari proses penggilingan dan berpengaruh terhadap homogenitas penyebaran bahan pakan yang berkorelasi terhadap daya rekat saat dicampur dan diolah menjadi pakan, sama halnya dengan berat jenis. 

Asam amino diatas merupakan asam amino esensial yang tidak dapat disintesis di dalam tubuh namun penting untuk pertumbuhan, sehingga harus tersedia di dalam makanan, kecuali tirosin dan sistin, karena dapat disintesis oleh asam amino esensial seperti phenilalanin dan metionin. Sediaoetama (1985) menyatakan tubuh dapat mensintesa suatu protein tertentu bila asam amino yang dibutuhkan untuk struktur protein tersebut tersedia lengkap. Bila ada yang kurang tetapi dari asam amino non esensial, maka asam amino tersebut akan disintesa terlebih dahulu, tetapi bila yang kurang adalah jenis asam amino esensial, maka tubuh tidak dapat mensintesa protein tersebut. Berdasarkan hasil di atas, asam amino tertinggi pada konsentrat protein ulat hongkong adalah leusin, sedangkan terendah yaitu histidin. Ayam membutuhkan asam amino esensial dan sejumlah asam amino nonesensial untuk mensintesis protein. Ayam yang diberi pakan rendah protein perkembangannya akan kurang maksimal dan tidak akan terjadi deposisi lemak (Pesti 2009). 

Salah satu cara mengukur kualitas protein adalah dengan menghitung skor kimia dan Indeks Asam Amino Esensial (IAAE). Skor kimia diperoleh dengan cara membandingkan kandungan asam amino esensial dalam protein suatu bahan pakan uji dengan asam amino esensial standar yang terdapat pada protein telur. Telur mengandung asam amino esensial yang paling seimbang dan memiliki skor kima 100, sehingga dijadikan sebagai standar. Pada metode skor kimia, kualitas protein ditentukan oleh asam amino yang paling rendah (defisiensi asam amino paling besar) dalam bahan pakan uji yang dibandingkan dengan asam amino standar (telur). Asam amino paling defisien merupakan asam amino pembatas. Asam amino paling defisien pada konsentrat protein ulat hongkong adalah phenilalanin, yaitu sebesar 86.73%, sehingga skor kimia yang diperoleh sebesar 13.27%. Skor kimia konsentrat protein ulat hongkong lebih rendah bila dibandingkan dengan meat bone meal yaitu sebesar 16.55% dan defisien pada asam amino treonin. Phenilalanin dan treonin termasuk ke dalam lima asam amino esensial pada unggas, selain metionin, lisin, thryptopan. Metionin dan lisin sering ditambahkan di dalam ransum unggas karena pakan unggas banyak menggunakan bahan pakan nabati seperti jagung, dedak padi dan bungkil kedelai. Bahan pakan yang berasal dari nabati defisien akan asam amino lisin dan metionin. Pada metode indeks asam amino esensial (IAAE), kualitas protein ditentukan oleh semua asam amino esensial yang terkandung dalam bahan pakan uji dibandingkan dengan asam amino esensial standar, yaitu telur. Perhitungan indeks asam amino esensial konsentrat protein ulat hongkong adalah sebesar 20.18%, lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai IAAE meat bone meal yaitu sebesar 25.39%. Nilai IAAE yang tinggi menunjukkan kualitas protein yang baik. Besarnya skor kimia dan nilai IAAE pada meat bone meal dikarenakan bahan dasar meat bone meal yang berasal dari daging yang merupakan sumber protein hewani yang mengandung asam amino lengkap dan seimbang. 

Evaluasi Kualitas Protein pada Konsentrat Protein Ulat Hongkong (Tenebrio Molitor L)

Pengukuran nilai biologi protein pada ayam cukup sulit dilakukan karena urin dan feses yang menjadi satu, atau disebut ekskreta. Net Protein Utilization (NPU) merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas protein suatu bahan pakan dengan menghitung selisih antara kandungan nitrogen pada karkas ayam broiler yang diberi pakan uji dengan nitrogen karkas ayam yang diberi pakan bebas atau rendah protein, kemudian di ndingkan dengan konsumsi nitrogen ayam yang diberi pakan uji (Leeson dan Summer 2001). Pakan bebas protein diujikan untuk melihat pertumbuhan ayam broiler tanpa adanya kandungan protein di dalam pakan, namun sulit dilakukan karena bahan yang digunakan masih mengandung protein sehingga diganti dengan pakan sangatrendah protein. Kemudian dibandingkan dengan pertumbuhan ayam broiler yang diberi pakan mengandung 10% protein yang berasal dari bahan pakan uji. Protein yang yang digunakan hanya 10% karena sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, tetapi tidak akan cukup bila untuk produksi.Pertambahan bobot badan (PBB) dan konsumsi ayam perlakuan NPU dapat dilihat pada Tabel 5. 

Ayam yang diberi perlakuan pakan bebas protein (P0) selama 17 hari mengalami penurunan bobot badan sebesar -0.27 g/ekor/hari, sedangkan perlakuan pakan uji mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa nutrien atau zat makanan yang terkandung dalam pakan perlakuan P0 kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, sehingga terjadi perombakan atau degradasi cadangan lemak dan protein di dalam jaringan tubuh. Ayam perlakuan pakan uji meat bone meal (P1) mengalami peningkatan pertambahan bobot badan paling tinggi yaitu sebesar 16.57 g/ekor/hari, sedangkan ayam perlakuan pakan uji konsentrat protein ulat hongkong (P2) sebesar 1.27 g/ekor/hari. Hal ini dikarenakan konsumsi ayam perlakuan P1 lebih banyak dibandingkan konsumsi ayam perlakuan P2, sehingga nutrien yang terserap lebih banyak, khususnya protein. Konsumsi ransum ayam perlakuan P1 rata-rata sebesar 41.99 g/ekor/hari, sedangkan konsumsi ayam perlakuan P2 sebesar 20.78 g/ekor/hari. Rendahnya konsumsi ayam perlakuan P2 dibandingkan P1 dikarenakan palatabilitas ayam pada perlakuan P2 yang rendah. Hal ini dapat dilihat dari perilaku ayam yang pada awalnya tidak mau makan, kemudian perlahan mulai makan tetapi tidak banyak, berbeda dengan perlakuan P1 dimana ayam tetap makan sejak pakan perlakuan diberikan. Palatabilitas pada ternak umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu perbedaan visual (warna), tekstur, aroma dan rasa (Amerah dan Ravindran 2008). 

Ayam broiler dapat tumbuh dengan cepat dan maksimal karena adanya kandungan protein atau asam amino yang tinggi dalam ransum (Farkhoy et al. 2012). Menurut Muchtadi (1993) penambahan atau peningkatan massa otot terjadi apabila protein tersedia dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan yang dibutuhkan untuk pemeliharaan hidup pokok. 

Rata-rata nilai NPU meat bone meal (P1) dan NPU konsentrat protein ulat hongkong (P2) dapat dilihat pada Tabel 6. Besarnya konsumsi pakan berpengaruh terhadap banyaknya nutrien yang terserap tubuh. Konsumsi ayam perlakuan P1 lebih besar dibandingkan P0 dan P2, sehingga peluang nitrogen yang terserap dan teretensi di dalam tubuh juga besar. Dorigam et al. (2016) menyatakan bahwa besarnya nitrogen yang teretensi dalam tubuh (NR) tergantung dari besarnya intake nitrogen. Hal ini terbukti dari hasil penelitian dimana nitrogen yang terkandung dalam karkas ayam broiler perlakuan P1 lebih banyak dibandingkan P0 dan P2, mengakibatkan nilai NPU perlakuan P1 lebih besar dibandingkan perlakuan P2, yaitu sebesar 57.7%, sedangkan nilai NPU P2 sebesar 38.9%. Rendahnya nilai NPU P2 disebabkan juga oleh skor kimia dan IAAE konsentrat protein ulat hongkong yang lebih rendah dibandingkan dengan meat bone meal, karena asam amino merupakan indikator penentu kualitas protein dimana protein dibentuk dari beberapa asam amino. Tetapi, nilai NPU konsentrat protein ulat hongkong dalam penelitian ini lebih tinggi dari NPU meat bone meal hasil penelitian Hegedüs et al. (1983), dimana nilai NPU untuk meat and bone meal yang diujikan pada tikus yaitu sebesar 29.10% dan blood meal sebesar 8.50%. 

Pengaruh Perlakuan terhadap Performa Ayam Broiler 

Performa ayam broiler yang diberi pakan perlakuan 5% meat bone meal dan 5% konsentrat protein ulat hongkong dapat dilihat pada Tabel 7. Penggunaan konsentrat protein ulat hongkong pada ayam broiler memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap konsumsi ransum, bobot badan akhir, pertambahan bobot badan dan FCR. 

Angka konsumsi ransum broiler pada perlakuan konsentrat protein ulat hongkong (R1) lebih tinggi bila dibandingkan R0. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan konsentrat protein ulat hongkong yang telah dicampur dengan bahan pakan unggas lainnya menjadi pakan broiler tidak memengaruhi palatabilitas ayam broiler. Berbeda dengan perlakuan NPU, di mana pakan hanya mengandung protein yang berasal dari satu sumber yaitu konsentrat protein ulat hongkong. Rata-rata konsumsi ransum pada penelitian ini berkisar 2804.94–2847.84 g ekor-1. Konsumsi ini lebih rendah bila dibandingkan dengan konsumsi ransum ayam broiler strain Lohman umur 35 hari yang diproduksi oleh PT Japfa Comfeed Indonesia, yaitu 2934 g ekor-1 dengan bobot badan akhir 1839 g ekor-1. 

Bobot badan akhir ayam broiler selama perlakuan berkisar 1596.40-1644.50 g ekor-1. Penggunaan konsentrat protein ulat hongkong pada ransum juga cenderung menghasilkan bobot badan akhir 3% lebih tinggi dibandingkan perlakuan meat bone meal. Hal ini disebabkan karena konsumsi ransum perlakuan R1 lebih tinggi, sehingga nutrien yang terserap sedikit lebih banyak. Konsumsi protein pada broiler R1 sebesar 551.80 g ekor-1, sedangkan konsumsi protein R0 sebesar 543.93 g ekor.

Berbeda dengan hasil perlakuan NPU, di mana perlakuan konsentrat protein ulat hongkong lebih rendah bila dibandingkan dengan meat bone meal, hal ini dikarenakan pada perlakuan feeding trial sumber protein tidak hanya berasal dari konsentrat protein ulat hongkong, tetapi juga dari bahan pakan lain seperti bungkil kedelai, dan protein dalam pakan lebih tinggi yaitu 22% pada fase starter dan 18% pada fase finisher, sehingga nilai negatifnya tidak terlihat. Selain itu, untuk pembentukan performa pada ayam broiler tidak hanya protein saja yang dibutuhkan, tetapi sumber energi, serat, mineral dan vitamin juga diperlukan untuk menyongkong pertumbuhan. 

Pertambahan bobot badan (PBB) merupakan selisih bobot badan akhir dengan bobot badan awal broiler. PBB broiler yang diberi pakan mengandung 5% konsentrat protein ulat hongkong (R1) cenderung lebih tinggi dikarenakan bobot badan akhir yang lebih tinggi dibandingkan ayam broiler yang diberi pakan mengandung 5% meat bone meal (R0). Nilai konversi pakan merupakan perbandingan antara pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan. Konversi pakan broiler pada penelitian ini berkisar 1.78 – 1.81. Konversi pakan broiler perlakuan R1 cenderung lebih baik dibandingkan R0. Hal ini menunjukkan penggunaan konsentrat protein ulat hongkong lebih efisien. Konversi pakan dipengaruhi oleh komposisi pakan, efisiensi retensi energi, energi metabolis tubuh dan pemakaian energi untuk kebutuhan pokok (Romero et al. 2011). 

Mortalitas pada penelitian ini disebabkan karena suhu lingkungan yang kurang sesuai. Broiler ditemukan mati pada siang hari dengan kondisi terlentang, menandakan ternak mengalami heat shock. Hal ini juga terlihat dari suhu kandang yang terlalu tinggi yaitu berkisar 26 - 31◦C pada fase finisher. Borges et al. (2004) melaporkan bahwa suhu kandang broiler yang baik adalah 29-35◦C pada fase starter dan 20-25◦C pada fase finisher. 

Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot dan Persentase Bagian Karkas Ayam Broiler 

Bobot dan persentase bagian karkas ayam broiler yang diberi perlakuan konsentrat protein ulat hongkong disajikan pada Tabel 8. Bagian karkas yang diamati dalam penelitian ini terdiri dari dada, paha, punggung dan sayap. Penggunaan konsentrat protein ulat hongkong pada ransum broiler memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap bobot dan persentase paha, punggung dan sayap, tetapi berbeda nyata (P<0.05) meningkatkan persentase dada ayam broiler. 

Bobot potong adalah bobot hidup ayam sebelum dilakukan pemotongan untuk dilakukan uji kualitas karkas. Persentase karkas pada penelitian ini berkisar 66.89–67.62%. Hasil ini sama dengan penelitian Djunaidi et al. (2009) dengan pemberian pakan komersil terhadap ayam broiler selama 35 hari yaitu diperoleh persentase karkas sebesar 64.47–70.50%, sedangkan penelitian Sibarani et al. (2014) persentase karkas ayam broiler Lohman jantan sebesar 64.6%. 

Konsentrat protein ulat hongkong (R1) pada ransum broiler memberikan pengaruh yang lebih baik bila dibandingkan dengan meat bone meal. Hal ini terlihat dari persentase dada yang 3.29% lebih tinggi (P<0.05). Potongan komersil dada merupakan bagian yang banyak mengandung jaringan otot sehingga pertumbuhannya banyak dipengaruhi oleh protein, khususnya asam amino dan dalam kondisi lingkungan yang baik persentase dada ayam broiler berkisar 35% (Tatli et al. 2007). Pernyataan tersebut sesuai dengan hasil penelitian ini, dimana konsumsi protein pada R1 sedikit lebih tinggi yaitu 551.80 g ekor-1 dengan konsumsi lisin sebesar 33.22 g ekor-1, sedangkan konsumsi protein R0 yaitu 543.93 g ekor-1 dengan konsumsi lisin sebesar 30.79 g ekor-1. 

Konsentrasi protein dan asam amino dalam pakan ayam broiler memberikan pengaruh yang besar terhadap daging. Asam amino penting untuk perkembangan otot dan salah satu asam amino yang banyak terkandung dalam daging ayam broiler adalah lisin. Kidd et al. (1998) menyatakan bahwa kebutuhan lisin untuk daging bagian dada ayam broiler lebih tinggi dibandingkan untuk pertumbuhan. Persentase dada ayam broiler dapat tercapai maksimum dengan lisin sebesar 1.25% pada fase starter dan 1.06% pada fase finisher (49 hari). Lisin dianggap sebagai asam amino inert dengan kecepatan degradasi yang rendah (Leeson dan Summers 2001). Konsentrat protein ulat hongkong mengandung lisin sebesar 1.88% dengan kecernaan pepsin sebesar 80.12%, sedangkan meat bone meal mengandung lisin sebesar 1.82% dengan kecernaan pepsin sebesar 77.96%. 

Penggunaan konsentrat protein ulat hongkong pada ransum broiler menghasilkan persentase paha relatif sama dengan penggunaan meat bone meal yaitu 30.77%. Persentase punggung dan sayap perlakuan meat bone meal (R0) sedikit lebih besar dibandingkan R1. Punggung dan sayap ayam merupakan bagian yang didominasi oleh adanya tulang sebagai kerangka tubuh. Tulang merupakan jaringan penyokong utama tubuh yang strukturnya disusun oleh unsur organik dan anorganik. Unsur organik terdiri dari protein, sedangkan unsur anorganik yaitu sumber mineral, seperti kalsium dan fosfor. Meat bone meal selain mengandung protein, juga mengandung Ca dan P dalam jumlah yang cukup tinggi. Kandungan Ca dan P pada meat bone meal berkisar 7.1 – 11.8 % dan 3.7- 6.0 % (Anwar et al. 2015), sedangkan pada ulat hongkong lebih rendah yaitu 2.7% dan 7.3% (Finke 2002). Persentase punggung dan sayap dalam penelitian ini berkisar 22.67 – 23.38% dan 10.50 – 10.94%. 

Pengaruh Perlakuan terhadap Meat Bone Ratio Ayam Broiler Meat bone ratio adalah perbandingan antara tulang dan daging yang terdapat pada bagian dada dan paha ayam broiler. Bagian dada dan paha dipilih karena merupakan bagian karkas yang bernilai ekonomi tinggi. Hasil rataan meat bone ratio dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 9. 

Penggunaan konsentrat protein ulat hongkong pada ransum broiler tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P>0.05) terhadap meat bone ratio pada dada dan paha ayam broiler. Akan tetapi, meat bone ratio pada perlakuan konsentrat ulat hongkong (R1) cenderung lebih tinggi bila dibandingkan perlakuan meat bone meal (R0). Bobot daging pada bagian dada dan paha ayam broiler yang diberi perlakuan konsentrat protein ulat hongkong (R1) lebih tinggi 6% dibandingkan bobot dada ayam dengan perlakuan meat bone meal (R0), sehingga persentase daging pada bagian dada dan paha ayam perlakuan R1 juga lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa protein yang terdapat pada pakan perlakuan konsentrat protein ulat hongkong dapat diretensi oleh ayam broiler untuk pembentukan jaringan otot tubuh. 

Dada ayam merupakan bagian terpenting dari karkas, adanya sedikit perbedaan pada besaran dada ayam akan berdampak pada nilai ekonomi yang signifikan (Scheuermann et al. 2003). Karaoğlu1 et al. (2014) melaporkan bahwa daging pada bagian dada ayam broiler penting bagi nutrisi manusia karena terdapat daging dengan kualitas tinggi, seperti tinggi protein dan rendah kolagen serta lemak. Pertumbuhan tubuh berawal dari pembentukan jaringan tulang (kerangka), kemudian otot (daging) dan yang terakhir adalah lemak. Pada perlakuan R0 nutrien yang diserap tubuh banyak digunakan untuk pembentukan jaringan tulang (kerangka) karena adanya kandungan Ca dan P yang lebih tinggi pada meat bone meal. Hal ini terlihat dari besarnya persentase tulang pada bagian dada dan paha ayam perlakuan R0 dibandingkan perlakuan R1. Menurut Samsudin et al. (2012) persentase tulang ayam secara keseluruhan bervariasi, berkisar 17-25%. 

Meat bone ratio pada penelitian ini hampir sama dengan hasil penelitian Marcu et al. (2014), dimana ayam broiler jantan yang dipelihara selama 42 hari menghasilkan perbandingan daging dan tulang pada bagian dada yaitu berkisar 6.95 : 1 – 8.51 : 1, sedangkan meat bone ratio pada bagian paha yaitu berkisar 3.46 : 1 – 4.04 : 1. Gornowicz et al. (2009) menyatakan bahwa daging bagian dada lebih tinggi 2.96 – 3.65% dibandingkan daging bagian paha. 

Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot dan Persentase Non Karkas Ayam Broiler Bagian non karkas yang diamati dalam penelitian ini terdiri dari darah, bulu, kepala dan kaki. Bobot dan persentase bagian non karkas dapat dilihat pada Tabel 10. Penggunaan konsentrat protein ulat hongkong dalam ransum broiler yang dipelihara selama 35 hari tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P>0.05) terhadap bobot dan persentase darah, bulu, kepala dan kaki ayam broiler. 

Bagian non karkas atau non edible secara substansial akan menurun seiring bertambahnya umur ternak (Murawska et al. 2011). Darah merupakan zat perantara yang membawa sari-sari makanan atau nutrien untuk diserap tubuh serta membuang sisa-sisa hasil metabolisme. Persentase darah dalam penelitian ini berkisar 3.69 – 3.67%. Persentase bulu ayam broiler pada perlakuan meat bone meal (R0) sedikit lebih tinggi dibandingkan perlakuan konsentrat protein ulat hongkong (R1) yaitu 5.35%. Bulu tersusun dari 90% protein kasar, dengan asam amino sebesar 60% di mana sistin sebesar 7% dari protein. Bulu dibentuk oleh protein yang terdiri dari keratin, elastin, gelatin, dan kolagen yang bersifat non esensial. Struktur keratin banyak mengandung sistin, sehingga menjadikan metionin penting di dalam ransum, yaitu salah satunya untuk pembentukan bulu (Leeson dan Summer 2001). Hal ini terbukti dari hasil penelitian, dimana konsumsi metionin perlakuan R0 lebih besar dibandingkan perlakuan R1, yaitu sebesar 17.09 g ekor-1, sedangkan perlakuan R1 sebesar 14.29 g ekor-1. Kecepatan ayam berbulu tergantung dari nutrisi pakan dan genetik (Leeson dan Walsh 2004). Menurut Grabowski dan Kijowski (1993) bulu ayam berkisar 4.5% dari bobot badannya. 

Bagian non karkas atau non edible secara substansial akan menurun seiring bertambahnya umur ternak (Murawska et al. 2011). Darah merupakan zat perantara yang membawa sari-sari makanan atau nutrien untuk diserap tubuh serta membuang sisa-sisa hasil metabolisme. Persentase darah dalam penelitian ini berkisar 3.69 – 3.67%. Persentase bulu ayam broiler pada perlakuan meat bone meal (R0) sedikit lebih tinggi dibandingkan perlakuan konsentrat protein ulat hongkong (R1) yaitu 5.35%. Bulu tersusun dari 90% protein kasar, dengan asam amino sebesar 60% di mana sistin sebesar 7% dari protein. Bulu dibentuk oleh protein yang terdiri dari keratin, elastin, gelatin, dan kolagen yang bersifat non esensial. Struktur keratin banyak mengandung sistin, sehingga menjadikan metionin penting di dalam ransum, yaitu salah satunya untuk pembentukan bulu (Leeson dan Summer 2001). Hal ini terbukti dari hasil penelitian, dimana konsumsi metionin perlakuan R0 lebih besar dibandingkan perlakuan R1, yaitu sebesar 17.09 g ekor-1, sedangkan perlakuan R1 sebesar 14.29 g ekor-1. Kecepatan ayam berbulu tergantung dari nutrisi pakan dan genetik (Leeson dan Walsh 2004). Menurut Grabowski dan Kijowski (1993) bulu ayam berkisar 4.5% dari bobot badannya. 

Persentase kepala dan leher ayam broiler yang diberi ransum mengandung konsentrat protein ulat hongkong sedikit lebih tinggi dibandingkan ransum mengandung meat bone meal. Kepala merupakan bagian non karkas yang akan menurun proporsinya seiring bertambahnya usia, berbeda dengan bulu. Penelitian Kaminska (1986) menyebutkan bahwa proporsi kepala ayam mengalami penurunan setelah umur satu minggu, yaitu dari 13% turun menjadi 9% dari bobot badan. Rataan persentase kepala dan leher ayam broiler selama penelitian berkisar 4.87 – 5.08%. Rataan persentase kaki ayam broiler yang dipelihara selama 35 hari berkisar 3.11 – 3.39%. Kaki digunakan sebagai penopang tubuh ternak. Proporsi kaki ayam akan menurun dengan lambat, dari 6% saat umur 2 hari menjadi 4% saat umur 12 minggu (Kaminska 1986). Persentase bobot non karkas dipengaruhi oleh nutrien dalam pakan, jika nutrien di dalam pakan melebihi kebutuhan metabolis tubuh seperti hidup pokok dan produksi, maka pembentukan komponen non karkas akan besar (Scott et al. 1982). 

Kesimpulan 

Penggunaan 5% konsentrat protein ulat hongkong dalam ransum ayam broiler mampu menyamai penggunaan 5% meat bone meal dalam menghasilkan performa dan kualitas karkas khususnya persentase dada ayam broiler. 

Saran

Konsentrat protein ulat hongkong dapat direkomendasikan sebagai bahan pakan ayam broiler dengan memperhitungkan kandungan asam aminonya.

Sumber: https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85540

Informasi selengkapnya:
Ulat Hongkong Garut - Bumi Malayu Farm

Belum ada Komentar untuk "Konsentrat Ulat Hongkong untuk Pakan Ayam"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel