Panduan BSF - Proses Pengolahan Sampah Organik dengan BSF (Black Soldier Fly)

Buku Panduan BSF - Proses Pengolahan Sampah Organik dengan BSF (Black Soldier Fly). Panduan Langkah-langkah Lengkap Proses Pengolahan Sampah Organik dengan Black Solier Fly (BSF). Buku ini diterbitkan oleh Eawag – Swiss Federal Institute of Aquatic Science and Technology - Department of Sanitation, Water and Solid Waste for Development (Sandec) - Überlandstrasse 133, 8600 Dübendorf, Switzerland - Phone +41 58 765 52 86

Panduan BSF - Proses Pengolahan Sampah Organik dengan BSF (Black Soldier Fly)
Panduan BSF - Proses Pengolahan Sampah Organik dengan BSF (Black Soldier Fly)


Daftar Isi:
DAFTAR ISTILAH TEKNIS 

Bab 1: PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang
1.2 Jangkauan dan Sasaran
1.3 Petunjuk Buku Panduan Ini

Chapter 2: PENGOLAHAN SAMPAH DENGAN BSF
2.1 Memahami Siklus Hidup Alami BSF
2.2 Pertimbangan Secara Kesuluruhan Untuk Pembuatan Fasilitas Pengolahan BSF
2.3 Merekayasa Siklus Hidup BSF

Chapter 3: AKTIFITAS DI FASILTAS PENGOLAHAN SAMPAH DENGAN BSF
3.1 Aktifitas di Unit Pembiakan Massal BSF
3.2 Aktifitas di Unit Penerimaan dan Sebelum Proses Pengolahan Sampah
3.3 Aktivitas di unit pengolahan sampah
3.4 Aktivitas di unit pemanenan produk
3.5 Aktivitas di unit setelah pengolahan (penyaringan larva dan pengolahan residu)

Chapter 4: JADWAL PENANGANAN DI FASILITAS PENGOLAHAN BSF

Chapter 5: SKEMA PERALATAN YANG DIBUTUHKAN

Chapter 6: MATERIAL YANG DIBUTUHKAN DI FASILITAS PENGOLAHAN BSF
6.1 Material for the BSF rearing unit
6.2 Material for the BSF waste processing unit


DAFTAR ISTILAH TEKNIS

5-DOL: Singkatan untuk larva umur lima hari (Five-Day-Old-Larvae). Larva yang baru menetas, apabila dipelihara di lingkungan yang terkontrol dan terlindungi selama lima hari, dapat meningkatkan kelangsungan hidup larva, sehingga larva lebih mudah untuk dihitung sebelum digunakan untuk mengolah sampah organik

Adult (Imago): Tahap terakhir perkembangan setelah menjadi pupa. Pada serangga, biasanya disebut “imago”.

Anaerobic digestion (pengolahan anaerobik): Penguraian bahan organik oleh mikroorganisme tanpa memerlukan oksigen, yang produk akhirnya berupa biogas.

Ant trap (Perangkap Semut): Alat untuk mencegah dari serangan semut. Setiap kaki meja dilindungi oleh kotak /kontainer berisi air dan deterjen. Deterjen mengurangi ketegangan permukaan air.

Attractant: Cairan berbau yang dapat menarik BSF Betina untuk bertelur. Biasanya, cairan ini terdiri dari berbagai bebauan seperti fermentasi buah, lalat mati atau residu. Telur BSF juga bertindak sebagai attractant. Oleh sebab itu, tidak disarankan untuk memanen telur setiap hari, karena telur berfungsi sebagai attractant lalat betina lain yang untuk meletakkan telur di sekitar telur tersebut.

Batch operation (Operasional secara bertahap): Dalam pelaksanaan secara bertahap, jumlah sampah dan larva yang akan ditambahkan ke dalam suatu wadah/kotak dapat ditentukan, yang kemudian dipanen pada waktu tertentu. Pelaksanaan secara bertahap berbeda dengan pengoperasian berkelanjutan, yang mana sampah dan larva ditambahkan secara berangsur-angsur ke dalam wadah yang sama. Wadah tersebut hanya dikosongkan setelah terisi penuh.

Biowaste (Sampah Organik): Definisinya adalah semua bahan yang dapat diuraikan dan tidak mencemari lingkungan. Pada konteks ini, bahan tersebut tidak termasuk sampah yang kandungan selulosanya tinggi (contohnya, sampah perkebunan, kayu, rumput, daun, dll.) Karena tidak dapat dengan mudah diserap sarinya oleh larva.

BSF (BSF): Black soldier fly, Hermetia illucens

Coco peat (Sabut Kelapa): Material berupa bubuk /sabut sebagai hasil dari proses pengolahan serat kelapa. Dalam konteks ini, sabut kelapa paling sering digunakan untuk menyerap kelembaban. Sabut dapat digantikan oleh material lain yang memiliki fungsi serupa, contohnya dedak gandum.

Compost (Kompos): Bahan organik yang telah terurai dan diubah melalui proses aerobik menjadi substansi yang mirip tanah dan dapat dijadikan sebagai pupuk dan untuk memperbaiki kesehatan tanah.

Dark cage (Kandang Gelap): Lalat dewasa keluar dari kepompongnya di kandang yang gelap, dan hidup di kandang tersebut hingga dipindahkan ke kandang kawin. Kondisi yang gelap di dalam kandang, membuat lalat-lalat tenang dan mencegah aktivitas kawin antar lalat.

Date code (Kode Tanggal): Kode tanggal berfungsi untuk perhitungan durasi selama proses berlangsung dan digunakan untuk kandang-kandang dan container/wadah. Kode terdiri dari kalender mingguan dalam setahun dan hari dalam satu minggu (contohnya: hari Selasa, minggu ke-8, ditulis 8.2). 8=Simbol jumlah minggu, 2= Karena Selasa merupakan hari ke-2 dalam satu minggu.

Dry matter (Material kering): Massa bahan setelah semua kandungan airnya hilang. Material ini biasanya didapatkan dengan memasukkannya ke oven dengan suhu 105°C selama 12 jam.

Egg (Telur): Seekor lalat betina dapat menghasilkan telur hingga 400 - 800 buah, dan telur tersebut menetas dalam kurun waktu empat hari. Satu butir telur beratnya sekitar 25 µg.

Eggies (Tempat telur): Media yang digunakan dalam pembiakan massal BSF untuk mengumpulkan telur-telur yang dihasilkan lalat betina. Benda ini menyediakan rongga pelind- ung agar telur tidak berpindah posisi.

Emerging (Kemunculan): Istilah yang digunakan ketika lalat muncul dari kepompong/pupa

Engineered biosystem (Biosistem rekayasa): Sebuah proses biologis yang telah dioptimalkan kondisi lingkungannya menyerupai kondisi lingkungan yang alami untuk tujuan tertentu.

Faecal sludge (Endapan feses): Produk limbah dari sistem sanitasi di tempat, seperti pit latrines atau septic tanks. Biasanya berupa campuran dari kotoran dan air, dan seringkali tercam- pur dengan pasir dan sampah rumah tangga

Feeding station (Pusat Pemberian Makan): Sebuah area yang didesain untuk memberikan sampah ke larva. Sebaiknya tempat ini terbuat dari bahan yang dapat dibersihkan dengan mudah (ubin atau lantai tertutup), karena ada kemungkinkan sampah tumpah selama proses pemberian makan.

Fishmeal: Fishmeal adalah pakan yang kaya akan nutrisi, yang digunakan untuk hewan-hewan di peternakan. Pakan ini dibuat dari ikan laut kecil yang dijadikan serbuk setelah melalui proses penggilingan, pemasakan, dan penurunan kadar lemak. Produksi fishmeal merupakan kontributor signifikan dari pemancingan ikan yang berlebihan atau over-fishing.

Food and restaurant waste (Sampah makanan dan restoran): Sampah organik dari restoran terdiri dari sisa bahan untuk memasak dan sisa makanan. Jenis sampah ini biasanya mengandung kadar nutrisi yang tinggi dan rendah kandungan airnya dibandingkan sampah pasar atau sampah sisa pengolahan makanan.

Food processing waste (Sampah Sisa Pengolahan Makanan): Sampah organik dari sisa pengolahan industri makanan. Sampah ini berva- riasi, dari buah-buahan dan potongan sayuran hingga remah roti dan atau produk yang berbahan dasar susu. Biasanya sampah ini satu jenis dan bersumber dari sisa makanan yang sama.

Hammer mill: Alat untuk menghancurkan dan menggiling suatu bahan menjadi ukuran yang lebih kecil dengan alat seperti palu yang berputar dan memukul material secara berulang-ulang. Alat ini tidak dapat digunakan untuk memotong suatu bahan. Ukuran partikel yang dihasilkan bergantung pada diameter outlet keluaran mesin.

Hatching (Penetasan): Proses menetasnya larva (hatchling) dari telur.

Hatchling: Larva yang baru saja menetas dari telur. Terkadang disebut juga dengan istilah “neonates”.

Hatchling container: Suatu wadah/kotak tempat jatuhnya larva yang baru menetas, yang berisi pakan bernutrisi (pakan ayam), sebagai tempat larva tersebut hidup selama lima hari menjadi 5 -DOL.

Hatchling shower: Telur-telur yang dipanen, diletakkan di sebuah rak yang disebut hatchling shower, yang diletakkan di atas hatchling container. Ketika larva menetas, larva tersebut akan jatuh ke hatchling container, yang diganti secara rutin (setiap satu hingga tiga hari).

Human faeces (Kotoran/Feses Manusia): Kotoran (feses) yang tidak tercampur urin atau air, yang berasal dari toilet kering yang menyedot kotoran tanpa perlu air untuk menyiram. Tempat penampungan feses dan urin di toilet ini juga berbeda. 

Lab oven: Sebuah oven yang memiliki suhu yang seragam dan dapat diatur. Dalam pengolahan sampah organik dengan BSF, oven ini seringkali digunakan untuk mendapatkan sampel bahan kering dari sampah, residu (sisa hasil pengolahan), dan larva. Oven ini beroperasi pada suhu 105o C.

Larva: Fase pra-dewasa pada serangga dengan metamorfosis sempurna (holome tabola, serangga yang fase pra-dewasa sangat berbeda dengan fase dewasanya). Ada tujuh fase larva, yang biasa disebut instar, dalam siklus hidup BSF sebelum berubah menjadi lalat (imago).

Larvero: Larvero adalah kontainer/wadah sebagai tempat larva diberikan makanan berupa sampah organik. Kontainer ini beraneka ragam ukurannya, mulai dari keranjang berukuran standar (60x40x15 cm) sampai wadah seukuran pallet, hingga bak beton yang berukuran besar.

Love cage: Love cage adalah kandang jaring yang berisi kelompok lalat berusia hampir sama, yang didapat dari kandang gelap (dark cage). Di dalam love cage, lalat jantan dan betina melakukan perkawinan (mating), kemudian lalat betina meletakkan telurnya di eggies. Setelah satu minggu, love cage diturunkan dan dikosongan.

Low and middle income setting: Meskipun pengolahan sampah organik dengan BSF dapat diaplikasikan di seluruh dunia, namun teknik yang dijelaskan di buku ini difokuskan pada negara berpendapatan rendah dan menengah (Pendapatan perkapita kurang dari 15 juta rupiah). Hal ini digolongkan berdasarkan rendahnya gaji buruh dan tingginya kuantitas sampah organik yang dihasilkan dari pemukiman.

Market waste (Sampah Pasar): Sebagian besar terdiri dari buah-buahan dan sayuran. Memiliki kandungan air yang tinggi (hingga 95 %) dan jenis sampahnya berbeda setiap musimnya. Bagian terluar dari sayuran yang berdaun kemungkinan telah tercemar pestisida, sehingga sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu sebelum diberikan untuk BSF.

Municipal organic waste (Sampah Organik Pemukiman): Sampah organik yang dihasilkan oleh pemukiman, termasuk sampah dari rumah tangga, pertokoan, industri, instansi (sekolah, pusat kesehatan, penjara, dll.) dan tempat-tempat umum (jalanan, halte bus, taman, dan kebun).

Nursery container: Di dalam nursery container, 5 DOL diberi makan dengan pakan yang jumlah nutrisinya telah ditetapkan (contoh: pakan ayam) sampai berubah ke fase pra-pupa. Tempat ini digunakan untuk memelihara larva, yang akan dipindahkan ke pupation container (tempat berpupa), dimana pra-pupa tersebut berubah menjadi imago (lalat).

Pelletiser (Alat Pembuat Pelet): Alat untuk mencampur dan membentuk larva dan bahan lainnya (kacang-kacangan, jagung, bekatul, dll.) menjadi pelet untuk pakan ikan atau ayam.

Poultry manure (Kotoran Unggas): Sampah jenis ini dihasilkan dari peternakan ayam pedaging atau petelur. Larva BSF dapat tumbuh dengan baik di sampah jenis ini, karena merupakan sampah organik yang jenisnya sama, tapi sayangnya sampah jenis ini sedikit kuantitasnya. Sampah jenis ini cenderung kering dan karenanya sebaiknya dicampurkan dengan sampah buah dan sayuran.

Prepupa: Fase akhir dari larva yang bergerak keluar dari sampah untuk mencari tempat yang lebih kering untuk proses perubahan menjadi kepompong (pupa). Dibandingkan dengan larva, pra-pupa memiliki lapisan kitin yang lebih tinggi sehingga lebih sulit dicerna oleh ikan dan ayam.

Pupa (Kepompong): Fase yang terjadi saat larva akan berubah bentuk menjadi lalat (fase istirahat). Pupa Black Soldier Fly (BSF) memiliki kulit lapisan luar yang berasal dari fase akhir larva. Lama fase pupa pada BSF adalah 20 hari. 

Pupation container: Tempat untuk Larva BSF berpupasi, yang berisi media yang lembab (contoh: kompos, sabut kelapa yang lembab, tanah pot, dll.), sebagai tempat pra-pupa untuk menguburkan dirinya hingga menjadi pupa.

Rearing: Fasilitas pembiakan massal berisi keseluruhan siklus hidup Black Soldier Fly (BSF) untuk memproduksi jumlah 5 -DOL yang cukup untuk mengolah sampah organik.

Residue (Residu/sisa pengolahan): Sisa proses pengolahan. Substansi ini mudah hancur, seperti tanah atau bubur.

Shaking sieve (Saringan Pengayak): Sebuah saringan yang bergetar atau bergoyang yang digerakkan dengan eccentric drive. Di saringan ini terdapat jaring ayakan berukuran 3 sampai 5 mm yang digunakan dalam pemanenan untuk memisahkan larva dari residu.

Slaughterhouse waste (Sampah dari Tempat Pemotongan Hewan): Termasuk tulang, organ, kuku, darah dan bagian hewan lain yang tidak dikonsumsi, yang telah dibuang. Kotoran (feses) dalam usus hewan juga termasuk.

Spent grains: Sampah utama dari produksi bir. Sisa biji-bijian dan bahan tambahan lainnya, setelah mash (bubur sisa pembuatan whiskey) diambil inti sarinya (diekstraksi) kandungan gula, protein, dan bahan-bahan bergizi lainnya.

Transfer container: Tempat pra-pupa yang bergerak keluar dari nursery container. Kotak ini berisi sabut kelapa (coco peat) atau substansi kering lainnya untuk mencegah pra-pupa keluar.

Ventilation frame (Bingkai Ventilasi): Alat yang berfungsi untuk menyediakan jarak antara wadah larvero yang satu dengan wadah larvero yang lainnya sehingga terjadi pergantian udara dan menjaga wadah larvero tetap kering dan tidak lembab.

Waste reduction (Pengurangan Sampah): Pengurangan sampah dapat diukur berdasarkan berat basah atau berat kering, yang membandingkan jumlah sampah organik yang masuk ke proses pengolahan dengan sisa biomasa (residu). Besarnya nilai pengurangan sampah tergantung dari jenis sampah organik yang diolah, namun diharapkan pengurangan tersebut antara 60 - 85% berat kering.

Waste sourcing (Pemetaan Sumber Sampah): Pemetaan sumber sampah yang baik sangat penting untuk melengkapi pengetahuan akan rantai pengolahan sampah. Hal ini mengandalkan skema pengaturan yang baik dalam segala aspek sehingga dapat mengefisiensikan dana yang dikeluarkan. Ketika berbicara tentang sampah organik pemukiman, perhatian khusus dibutuhkan untuk pemilahan sampah agar didapat fraksi sampah organik yang diinginkan.

Water content (Kandungan Air): Ketika sampel (sampah, larva, residu, dll.) dikeringkan pada suhu 105°C di lab oven, semua air yang menguap dikategorikan sebagai “kandungan air”. Bersamaan dengan sisa bahan padat (“total padatan”), keduanya dinyatakan sebagai presentase berat basah yang setara dengan 100% 


Bab 1:
DASAR PEMIKIRAN

1.1 Gambaran Umum
Pengelolaan sampah di daerah perkotaan merupakan salah satu hal yang paling mendesak dan merupakan permasalahan lingkungan yang serius, dihadapi oleh pemerintah di negara berpendapatan rendah dan menengah. Tantangan yang semakin berat ini akan terus meningkat karena adanya trend urbanisasi yang terjadi dan tumbuh dengan cepat di populasi masyarakat perkotaan. Karena meningkatnya tekanan dari masyarakat dan kepedulian terhadap kondisi lingkungan, para ahli sampah dunia terpanggil untuk mengembangkan metode berkelanjutan yang berhubungan dengan sampah perkotaan, yang mengusung konsep sebuah perputaran ekonomi.

Daur ulang sampah organik (biowaste) masih terbatas, khususnya di daerah berpendapatan rendah dan menengah, padahal sampah jenis tersebut yang menjadi kontributor terbesar dari sampah perkotaan yang dihasilkan. Buku ini menjelaskan tentang sampah organik perkotaan di daerah urban yang berasal dari sampah rumah tangga, aktivitas komersial, dan institusi. Buku ini akan menjelaskan proses konversi biowaste menggunakan larva serangga, misalnya Black Soldier Fly (BSF), Hermetia ilucens, sebuah pendekatan yang telah menjadi perhatian pada dekade terakhir ini. Penggunaan larva dari serangga ini sebagai pengolah sampah merupakan suatu kesempatan yang menjanjikan, Karena larva BSF yang dipanen tersebut dapat berguna sebagai sumber protein untuk pakan hewan, sehingga dapat menjadi pakan alternatif pengganti pakan konvensional. Perusahan-perusahaan besar dan beberapa pengusaha kecil telah menginvestasikan dana untuk mengembangkan teknologi ini. Mereka juga tertarik dengan keuntungan yang didapatkan mengingat bahwa teknologi ini dapat diaplikasikan dengan menggunakan fasilitas terjangkau dengan biaya rendah. Meskipun publikasi secara akademik tentang BSF mengalami peningkatan, namun adanya campur tangan dari pihak pebisnis dan minat kompetisi menghmbat adanya diskusi terbuka untuk pengembangan yang lebih lanjut, terutama untuk membangun fasilitas pengolahan sampah menggunakan larva BSF. Hal inilah yang menjadi fokus utama dari buku ini.

Buku ini dibuat berdasarkan pengalaman yang melakukan operasional pengolahan sampah organik sebesar satu ton sampah perhari di fasilitas pengolahan di Indonesia, yang telah dioperasikan lebih dari dua tahun dan satu tahun operasional di fasilitas uji coba di Swedia. Sampah yang diolah di fasilitas yang ada di Indonesia kebanyakan adalah sampah buah dan sayur dari pasar. Peningkatan skala atau transfer informasi ke fasilitas yang lebih besar mungkin membutuhkan beberapa adaptasi dan penyesuaian peralatan walaupun menurut kami standar prosedur yang dideskripsikan di buku ini sesuai untuk skala yang lebih besar.

Beberapa atribut kunci membuat teknologi BSF menjadi sebuah pilihan pengolahan yang menarik untuk proses biowaste dari perspektif pengelola sampah dan bisnis:

  • Biomassa sampah diubah menjadi larva dan residu. Larva terdiri dari ± 35% protein dan ±30% lemak kasar. Protein serangga ini memiliki kualitas yang tinggi dan menjadi sumber daya makanan bagi para peternak ayam dan ikan. Percobaan pemberian makan telah memberikan hasil bahwa larva BSF dapat dijadikan sebagai alternatif pakan yang cocok untuk ikan.
  • Pemberian makan berupa sampah ke larva bertujuan untuk menghentikan penyebaran bakteri yang menyebabkan penyakit, seperti Salmonella spp. Hal ini berarti bahwa risiko penyakit yang dapat ditularkan antara hewan dengan hewan, dan antara hewan dengan manusia dapat berkurang ketika menggunakan teknologi ini di peternakan atau ketika mengolah sampah yang berasal dari hewan pada umumnya (contohnya kotoran ayam atau sampah dari sisa pemotongan hewan). Meskipun demikian, pengurangan risiko utama dapat dicapai melalui pengurangan material sampah (±80%) dibandingkan melalui penonaktifan patogen (mikroorganisme parasit).
  • Pengurangan berat basah sampah mencapai 80%. Jika pengolahan sampah organik dilakukan langsung di sumber sampah, maka biaya pengangkutan sampah dan kebutuhan lahan untuk tempat pembuangan akhir (TPA) dapat dikurangi. Contohnya pengolahan sampah organik dapat mengurangi terjadinya penimbunan sampah di ruang terbuka, yang masih menjadi permasalahan di daerah berpendapatan rendah dan menengah.
  • Residu sisa proses pengolahan dengan BSF merupakan material yang mirip dengan kompos, mengandung nutrisi dan unsur organik, dan ketika digunakan di pertanian dapat membantu mengurangi penipisan nutrisi tanah.
  • Laju konversi sampah menjadi biomasa yang tinggi, hingga 25% dari berat basahnya, sehingga merupakan kuantitas hasil yang memuaskan dari perspektif bisnis.
  • Pengoperasikan fasilitas ini tidak membutuhkan teknologi yang canggih. Karena itu sesuai untuk diterapkan di daerah berpendapatan rendah, yang masih mengandalkan teknologi yang sederhana dan tenaga kerja dengan keterampilan rendah.

Dua proyek penelitian (FORWARD dan SPROUT ) menjadi dasar penulisan buku panduan ini. FORWARD adalah proyek penelitian selama empat tahun, yang berfokus pada strategi terintegrasi dan teknologi untuk pengelolaan sampah padat organik perkotaan di kota dengan kepadatan populasi sedang di Indonesia. Proyek ini mendesain, mengimplementasikan, dan melakukan operasional pengolahan sampah skala pilot menggunakan BSF berada di pasar induk local (Puspa Agro). Fasilitas BSF didesain untuk menjadi lokasi percobaan “Standard Operating Procedures” (SOP) yang bisa digunakan untuk pengaplikasian lebih lanjut di lokasi lainnya. Proyek FORWARD adalah lembaga penelitian (R & D) independen non-profit yang didanai oleh SECO, the Swiss State Secretariat for Economic Affairs, yang bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (PU-PeRa).

Proyek SPROUT adalah proyek tiga tahun yang bertujuan untuk mengembangkan pengolahan sampah menjadi produk yang bernilai dengan menggunakan larva Black Fly Soldier (BSF). Proyek ini berfokus pada aspek higienis, desain dan pengoperasian unit pengolahan, kualitas produk (pakan dan pupuk), proses pascapanen yang disesuaikan dengan kualitas pakan dan keamanan produk, model bisnis untuk pengolahan sampah BSF, dan evaluasi dampak lingkungan dari pengolahan sampah BSF dibandingkan dengan pilihan pengolahan lainnya. SPROUT adalah sebuah proyek mul- tinasional antara SLU (Swedish University of Agricultural Sciences) dan Eawag (Swiss Federal Institute of Aquatic Science and Technology) sebagai mitra penelitian yang utama, dan Pacovis AG dari Swiss adalah mitra dari pihak industri. Proyek ini didanai oleh EU-program ECO -INNOVERA, Swedish Research Council Formas, Swiss Federal Office for the Environment FOEN dan Pacovis AG.

Buku panduan ini ditulis sebagai sumber terbuka (open-source) dengan harapan bahwa pengolahan sampah organik menggunakan BSF akan mendapat perhatian, implementasi, dan replikasi yang lebih luas. Dengan semangat ini, penulis juga ingin menyebutkan pihak-pihak yang turut mengembangkan, mendokumentasikan, dan mendiskusikan aspek- aspek praktis di unit pembiakan masal BSF dan pengolahan sampah dengan larva. Terima kasih disampaikan kepada Sirajuddin Kurniawan sebagai fotografer gambar peralatan dan langkah-langkah kerja yang dapat membantu menjelaskan secara visual, Cecilia Lalander dan Björn Vinnerås dari Swedish Agricultural University SLU (Swedia) untuk kerjasama di penelitian yang mutakhir, Longyu Zheng and Jibin Zhang of the Huazhong Agricultural University (China) dan Michael Wu of JM Green (China) atas keterbukaannya dan masukan yang bermanfaat, serta Puspa Agro atas keramahannya.

1.2 Jangkauan dan Sasaran Audiens
Fasilitas pengolahan BSF dapat didesain dan dioperasikan untuk mencapai target tertentu berdasarkan siklus hidup alami BSF. Contohnya, biaya dapat diatur secara efektif dengan cara menambah kualitas larva atau memaksimalkan kuantitas massa larva yang diproduksi dalam waktu tertentu atau berdasarkan bahan baku, mirip seperti sistem pembiakan hewan ternak (ayam, sapi, dll.).

Buku panduan ini mengacu pada perspektif pengelolaan sampah. Dengan kata lain, kami memulai dari dasar pemikiran bahwa sampah organik atau biowaste adalah fokus material yang kami sarankan untuk diolah dengan teknologi pengelolaan BSF sebagai proses yang cocok dan solusi daur ulang untuk memproduksi larva dan residu sampah. Karena itu, tujuan utamanya adala memproses biowaste dengan cara seefisien mungkin dengan memperhitungkan investasi dan biaya operasional, serta kebutuhan ruang. Dengan mengolah biowaste, diharapkan dapat menurunkan ancaman terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Solusi teknologis terdiri dari memberikan biowaste hasil pemilahan sampah ke larva BSF yang didapat dari pembiakkan di nursery. Larva tumbuh dari sampah dan mengurangi berat sampah. Di akhir proses, larva dipanen dan jika diperlukan dapat dilanjutkan ke proses selanjutnya menjadi produk yang cocok untuk pakan hewan ternak. Residu sampah dapat juga diproses lebih lanjut dan memiliki potensi jual untuk digunakan sebagai bahan tambahan untuk memperbaiki kesehatan tanah dengan karakter seperti pupuk.

Panduan ini disiapkan untuk dapat langsung dipraktikkan. Panduan ini menjelaskan bahan-bahan dan peralatan yang dibutuhkan dalam langkah kerja, mirip seperti buku memasak yang dilengkapi dengan resep dan cara memasak. Termasuk semua informasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan dan mengoperasikan sebuah fasilitas pengolahan sampah dengan larva Black Soldier Fly. Informasi yang sulit didapat dan tidak tersedia, kami soroti sebagai poin untuk penelitian dan pengembangan lebih jauh.

Penting untuk disebutkan bahwa pendekatan yang ditunjukkan di buku panduan ini hanya salah satu dari berbagai pendekatan yang ada. Dibuat berdasarkan pada peralatan yang tersedia secara lokal dan tanpa otomasi. Operasional yang terdapat pada buku ini telah terbukti dapat diaplikasikan, tetapi langkah-langah tertentu dapat diganti atau disesuaikan, tergantung pada tujuan yang diharapkan dan pengalaman.

Berdasarkan pendekatannya, buku panduan ini memiliki sasaran pembaca dengan pengetahuan yang masih minim atau dasar tentang pengolahan sampah pada umumnya, dan penggunaan teknologi Black Soldier Fly pada khususnya, yang tertarik untuk bekerja dengan sampah dan mengaplikasikan dan mengoperasikan fasilitas seperti ini. Panduan ini juga dapat sangat berguna untuk orang yang telah memulai pengolahan sampah organik dengan BSF dan tertarik memperoleh pandangan lain tentang bagaimana melakukannya.

1.3 Petunjuk menggunakan buku panduan ini
Panduan ini disusun berdasarkan lima unit proses utama yang merupakan kunci fasilitas pengolahan sampah organik dengan BSF.

  1. Unit pembiakan masal BSF
  2. Unit penerimaan sampah dan pra-proses
  3. Unit pengolahan sampah dengan BSF
  4. Unit pemanenan produk
  5. Unit pasca pengolahan (pemurnian larva dan pemrosesan residu)
Meskipun pemetaan sumber sampah adalah hal yang sangat penting untuk fasilitas BSF yang berfungsi dengan baik, namun unit ini tidak dibahas secara detail di buku panduan ini.

Kelangsungan ekonomi dari fasilitas pengolahan sampah organik dengan BSF akan tergantung pada serangkaian kondisi lokal berikut:

  • Skala, modal sesuai skala yang digunakan, dan biaya pengoperasian fasilitas
  • Iklim (suhu dan kelembaban)
  • Pendapatan potensial dari pengolahan sampah (tipping fee)
  • Pendapatan dari penjualan produk olahan larva (contoh: larva segar atau kering, tepung protein, minyak larva, dll.)
  • Penjualan dari residu sampah sebagai pupuk yang baik bagi tanah atau kegunaannya pada produksi biogas.

Panduan ini tidak sepenuhnya menjelaskan aspek finansial dari fasilitas, tapi lebih fokus kepada apa yang disarankan, yaitu meminimalisir langkah-langkah pengoperasian yang dibutuhkan untuk sebuah fasilitas pengolahan sampah organik. Disamping daftar aktivitas yang harus dilaksanakan pada selang waktu tertentu, panduan ini juga menyediakan daftar peralatan berdasarkan pada praktik yang telah dilakukan. Meskipun demikian, kami lebih menyoroti hal-hal tertentu yang menurut kami berpotensi untuk meningkatkan kegunaan peralatan.

Pada buku ini, anda akan menemukan beberapa ikon. Ikon tersebut menunjukkan isu pada bagian tertentu, informasi dasar, atau poin untuk hal yang masih perlu diperbaiki/diteliti lebih lanjut.


Bab 2:
PENGOLAHAN SAMPAH DENGAN BSF

2.1 Memahami siklus hidup alami BSF
Bab ini membahas lebih dalam tentang siklus hidup dari Black Soldier Fly di alam. Pemahaman terhadap siklus hidup BSF juga dapat membantu untuk mengerti mengapa BSF dinilai sebagai jenis serangga yang tepat untuk pengelolaan sampah organik. Selain itu pemahaman ini juga dapat memudahkan dalam mempelajari bagaimana siklus ini dapat “direkayasa” untuk meningkatkan manfat yang didapat dari efisiensi konversi sampah dan panen produk, baik secara kuantitas maupun kualitas.

Black Soldier Fly, Hermetia illucens, termasuk dalam Ordo Diptera, Famili Stratiomyidae. Jenis serangga ini dapat ditemui di seluruh dunia yang wilayahnya beriklim tropis dan subtropis pada garis lintang 40°S dan 45°U.

Dalam siklus hidup BSF, telur menandakan permulaan siklus hidup sekaligus berakhirnya tahap hidup sebelumya, di mana jenis lalat ini menghasilkan kelompok telur (juga biasa disebut ovipositing). Lalat betina meletakkan sekitar 400 hingga 800 telur di dekat bahan organik yang membusuk dan memasukkannya ke dalam rongga-rongga yang kecil, kering, dan terlindung. Betina tersebut akan mati tidak lama setelah bertelur. Telur-telur tersebut diletakkan dekat dengan bahan organik yang membusuk supaya saat menetas nanti, larva-larvanya dapat dengan mudah menemukan sumber makanan di sekitar mereka. Karena ditempatkan dalam rongga-rongga yang terlindungi dari pengaruh lingkungan, larva tersebut terjaga dari ancaman predator, serta sinar matahari langsung yang dapat menghilangkan kadar air pada telur. Pada umumnya, telur-telur tersebut menetas setelah empat hari. Larva yang baru menetas, yang berukuran hanya beberapa millimeter, segera mencari makan dan memakan sampah organik di sekitarnya. Larva akan memakan bahan organik yang membusuk tersebut dengan rakus, sehingga ukuran tubuhnya yang awalnya hanya beberapa millimeter itu akan bertambah panjangnya menjadi 2,5 cm dan lebarnya 0,5 cm, sedangkan warnanya menjadi agak krem.

Dalam kondisi optimal dengan kualitas dan kuantitas makanan yang ideal, pertumbuhan larva akan berlangsung selama 14 -16 hari. Namun, larva BSF merupakan serangga yang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, yang mampu memperpanjang siklus hidupnya dalam kondisi yang kurang menguntungkan sekalipun. BSF hanya makan saat masih di fase larva. Maka, pada tahap perkembangan larva inilah mereka menyimpan cadangan lemak dan protein hingga cukup bagi mereka untuk berpupa sampai menjadi lalat, kemudian menemukan pasangan, kawin, dan bertelur (bagi betina) sebelum akhirnya mati. 

Setelah melalui lima fase larva (lima instar), larva tersebut sampai ke fase prapupa. Saat bertransformasi menjadi prapupa, struktur mulutnya berubah menjadi struktur yang bentuknya seperti kait dan warnanya menjadi cokelat tua hinga abu-abu arang. Mulut berbentuk kait ini memudahkannya untuk keluar dan berpindah dari sumber makanannya ke lingkungan baru yang kering, bertekstur seperti humus, teduh, dan terlindung, yang aman dari predator. Di tempat inilah pupa menjadi imago dan kemudian terbang.

Pupasi merupakan proses transformasi dari pupa menjadi lalat. Tahap pupasi dimulai saat prapupa menemukan tempat yang cocok untuk berhenti beraktivitas dan menjadi kaku. Supaya proses pupasi berhasil, sebaiknya tempat memiliki kondisi lingkungan yang tidak banyak mengalami perubahan, atau dapat dikatakan tempat yang selalu hangat, kering, dan teduh. Pupasi memakan waku sekitar dua sampai tiga minggu. Berakhirnya pupasi ditandai dengan keluarnya lalat dari dalam pupa. Proses keluarnya lalat ini berlangsung sangat singkat. Dalam kurun waktu kurang dari lima menit, lalat sudah berhasil membuka bagian pupa yang dulunya merupakan bagian kepala, kemudian merangkak keluar, mengeringkan sayapnya lalu mengembangkannya dan terbang.

Setelah keluar, lalat dapat hidup sekitar satu minggu. Dalam masa hidupnya yang singkat, lalat akan mencari pasangan, kawin, dan bertelur (bagi para betina). Saat menjadi lalat, BSF tidak makan dan hanya membutuhkan sumber air dan permukaan yang lembab untuk menjaga tubuhnya agar tetap terhidrasi. Dalam fase hidup ini, yang terpenting adalah tersedianya cahaya alami yang cukup dan suhu yang hangat (25 -32°C). Lingkungan yang lembab dapat memperpanjang lama hidup lalat sehingga dapat meningkatkan jumlah telur yang diproduksi. Menurut hasil penelitian, lalat jenis ini lebih memilih melakukan perkawinan di waktu pagi hari yang terang. Setelah itu, lalat betina mencari tempat yang cocok untuk meletakkan telurnya, seperti yang telah dijelaskan di atas.

Kondisi lingkungan dan sumber makanan yang optimal bagi larva adalah sebagai berikut:
  • Iklim hangat: suhu idealnya adalah antara 24°C hingga 30°C. Jika terlalu panas, larva akan keluar dari sumber makanannya untuk mencari tempat yang lebih dingin. Jika terlalu dingin, metabolisme larva akan melambat. Akibatnya, larva makan lebih sedikit sehingga pertumbuhannya pun menjadi lambat.
  • Lingkungan yang teduh: larva menghindari cahaya dan selalu mencari lingkungan yang teduh dan jauh dari cahaya matahari. Jika sumber makanannya terpapar cahaya, larva akan berpindah ke lapisan sumber makanan yang lebih dalam untuk menghindari cahaya tersebut.
  • Kandungan air dalam makanan: sumber makanan harus cukup lembab dengan kandungan air antara 60% sampai 90% supaya dapat dicerna oleh larva.
  • Kebutuhan nutrisi pada makanan: bahan-bahan yang kaya protein dan karbohidrat akan menghasilkan petumbuhan yang baik bagi larva. Penelitian yang sedang berlangsung menunjukkan bahwa sampah yang telah melalui proses penguraian bakteri atau jamur kemungkinan akan lebih mudah dikonsumsi oleh larva.
  • Ukuran partikel makanan: karena larva tidak memiliki bagian mulut untuk mengunyah, maka nutrisi akan mudah diserap jika substratnya berupa bagian-bagian kecil atau bahkan dalam bentuk cair atau seperti bubur.

2.2 Pertimbangan pemilihan tempat keseluruhan untuk fasilitas pengolahan BSF
Pengetahuan akan siklus hidup di alam seperti yang dijelaskan di atas merupakan dasar dari fasilitas pengolahan sam- pah yang efisien dan dapat diandalkan dengan menggunakan larva BSF. Namun, untuk mengolah sampah organik secara teratur, seluruh siklus hidup BSF harus dikontrol sehingga dapat terbentuk suatu biosistem yang terancang dengan baik. Untuk membuat lingkungan yang hampir sama dengan habitat asli BSF sekaligus menjamin keberlan- jutan pengolahan sampah, poin-poin berikut ini harus diperhatikan saat memilih tempat yang tepat untuk fasilitas pengolahan BSF:

  • Ketersediaan sampah segar dalam jumlah yang memadai dengan biaya rendah, dalam jumlah yang dapat diperkirakan, dan tersedia secara teratur.
  • Rute pengiriman sampah dan pengambilan residu harus dijaga dengan baik dan dapat diakses dengan mudah sepanjang tahun.
  • Sebaiknya menghindari pemakaian lokasi yang berpopulasi padat serta wilayah yang pengguna tanah sekitarnya tidak menerima adanya fasilitas pengolahan sampah.
  • Sebaiknya tersedia air dan listrik yang cukup untuk pengoperasian fasilitas.
  • Penyangga lingkungan (environmental buffer) yang cukup tersedia, yang dapat dapat berfungsi sebagai pembatas antara area fasilitas pengolahan sampah dengan area sekitarnya juga harus dijaga (misalnya lahan terbuka, pepoho nan, pagar, dll).
  • Arah hembusan angin di fasilitas harus berlawanan dari daerah pemukiman.
  • Untuk praktisnya, perghitungan dapat berupa 50 m2 untuk nursery dan 100 m2 per ton sampah yang masuk setiap harinya.
  • Ruang untuk pembiakan masal BSF harus tertutup dan berventilasi, sedangkan love cage harus terpapar cahaya matahari.
  • Kontainer pengolahan harus teduh dan terhindar dari cahaya matahari langsung.
  • Harus ada kantor dan ruang laboratorium.
  • Harus ada toilet dan fasilitas kebersihan.

2.3 Merekayasa siklus hidup BSF
Dalam fasilitas pengolahan BSF yang dirancang secara khusus, kita dapat membedakan beberapa unit pengolahan.

2.3.1 Unit pembiakan masal BSF
Unit pembiakan masal BSF
Unit ini digunakan untuk memelihara larva-larva kecil (disebut 5 - DOL) agar selalu tersedia dengan jumlah yang konsisten dan dapat digunakan untuk mengolah sampah organik yang datang setiap harinya di fasilitas pengolahan tersebut. Namun, dalam unit pemeliharaan ini, jumlah larva yang menetas dibatasi dalam jumlah tertentu untuk menjamin kestabilan pembiakan populasinya.

Unit penerimaan sampah dan pra-pengolahan
Hal yang sangat penting adalah memastikan bahwa sampah yang diterima di fasilitas tersebut cocok untuk menjadi makanan bagi larva-larvanya. Untuk itu, langkah pertama adalah mengontrol sampah untuk memastikan bahwa sampah tersebut tidak mengandung material berbahaya dan bahan non- organik. Langkah selanjutnya adalah memperkecil ukuran partikel sampah, mengurangi kadar air jika tingkat kelembabannya terlalu tinggi, dan/atau mencampur beragam jenis sampah organik untuk menghasilkan makanan yang seimbang nutrisi dan kelembabannya untuk larva (70 - 80%).

Unit pengolahan sampah dengan BSF
Di unit ini, 5 - DOL dari unit pembiakan diberi makan sampah organik dalam kontainer yang disebut “larvero”. Larva yang memakan sampah organik ini kemudian tumbuh menjadi larva besar sehingga dapat mengolah dan mengurangi sampah.

Unit panen produk
Tepat sebelum berubah menjadi prepupa, larva diambil dari larvero. Residu sampah yang tertinggal di larvero juga merupakan produk yang bernilai tinggi.

Unit pasca-pengolahan
Apabila diperlukan, baik larva dan residu dapat diolah lebih lanjut untuk menyesuaikan dengan permintaan pasar lokal. Hal ini disebut “pemurnian produk”. Biasanya, langkah awalnya dilakukan dengan mematikan larva. Namun ada juga langkah lainnya untuk pemurnian larva, seperti pembekuan atau pengeringan, atau dengan memisahkan minyak larva dari protein larva. Sedangkan untuk pemurnian residu, biasanya dilakukan dengan pengomposan atau dimasukkan ke digester biogas untuk bahan produksi.

Untuk memastikan berlangsungnya pengolahan sampah secara teratur dalam jumlah yang dapat ditentukan, unit pembiakan harus menyediakan larva berusia lima hari (5 - DOL) dalam jumlah tertentu setiap harinya. Maka, penting untuk mengontrol langkah-langkah produksi selama pembiakan serta memantau hasil dari setiap langkah. Pada nursery BSF yang dirancang dengan baik, jumlah prapupa yang dapat melakukan pupasi dapat dikontrol dengan mudah. Hal ini dapat membantu memperkirakan jumlah lalat yang nantinya akan muncul, yang juga akan menunjukkan perkiraan berapa banyak kelompok telur yang akan dihasilkan, berapa ekor larva yang akan menetas, dan berapa banyak dari larva-larva tersebut yang dapat digunakan untuk mengolah sampah organik. Pemantauan tingkat kelangsungan hidup pada setiap fase di siklus ini dapat memudahkan untuk mengetahui kinerja koloni lalat tersebut secara keseluruhan dan dapat menunjukkan masalah-masalah di tahap tertentu. Tingkat kelangsungan hidup kemungkinan dapat berbeda antara nursery yang satu dengan nursery yang lainnya. Data yang ada di sini adalah berdasarkan unit pembiakan masal yang dilakukan di Indonesia yang dapat dijadikan sebagai contoh.

Penyimpanan dan panen telur
Dari sudut pandang pengelolaan, penting bagi semua kelomp telur untuk dikumpulkan di satu lokasi. Hal ini akan sangat mem dahkan saat pemanenan telur.

Untuk itu, kami melengkapi kandang-kandang dengan media yang sesuai (disebut “eggies”) untuk lalat-lalat tersebut bertel yakni media yang aman (yaitu rongga yang terlindung) untuk pen impanan telur, serta “atraktan” atau substansi yang mirip de gan bahan organik yang membusuk sehingga dapat menarik pa betina untuk meletakkan telurnya di sekitar sana. Setelah kelompok-kelompok telur sudah disimpan dalam eggies, telur-telur tersebut akan dipanen sebelum ada larva yang menetas.

Bentuk dan bahan eggies bisa bermacam-macam. Karena setiap gerakan atau sentuhan terhadap kelompok telur maupun telurnya dapat menurunkan tingkat kelangsungan hidupnya, maka penanganan telur harus dilakukan seminimal mungkin.

Idealnya, eggies yang kosong harus dibuat seringan mungkin untuk meminimalisir adanya kesalahan. Selanjutnya, eggies-eggies yang kosong, jika memungkinkan, harus memiliki berat yang sama sehingga saat menghitung berat eggies secara keseluruhan, berat dari masing-masing eggies juga dapat dihitung dengan mudah. Beberapa bahan eggies (seperti kayu dan kardus) dapat menyerap kelembapan di sekitarnya sehingga berat eggies tersebut bisa berubah dari waktu ke waktu. Maka, untuk menghindari kesalahan, eggies sebaiknya dibuat dari bahan plastik. Selain itu, disarankan juga untuk menggunakan eggies yang dapat digunakan berulang-ulang, yang dapat dibersihkan dengan cepat dan mudah, atau bisa juga menggunakan eggies sekali pakai.

Pemanenan telur diukur dari perbedaan berat antara eggies yang kosong dan penuh. Maka, disarankan untuk menggunakan jenis (dan berat) yang standar untuk eggies kosong. Jumlah telur merupakan total massa telur dibagi dengan rata-rata berat per satuan telur, yaitu 25 µg.

Penetasan telur dan pemberian makan untuk larva
Eggies yang baru dipanen dikumpulkan bersama eggies yang telah dipanen beberapa hari sebelumnya di “hatching container” terbuka yang memiliki sumber makanan bernutrisi tinggi. Kami menyebutnya “hatchling shower”. Dalam beberapa hari larva akan menetas. Apabila eggies yang baru dipanen dikumpulkan dengan eggies yang lama, maka dipastikan akan terjadi “shower” atau penetasan secara terus menerus di nursery container. Setelah menetas, larva akan jatuh dari eggies dan masuk ke hatchling container di bawahnya, di mana mereka akan segera mulai makan. Sumber makanan bernutrisi tinggi yang ada di hatchling con tainer berisi pakan ayam yang dicampur dengan air. Kandungan air dalam campuran ini adalah sekitar 70%.

Pengelolaan sampah dengan larva BSF paling mudah dilakukan dengan larva yang seragam (memiliki usia dan ukuran yang sama). Hal ini dapat menghasilkan perencanaan yang lebih baik untuk pemasukan sampah, tingkat konversi, dan waktu panen. Dengan hatchling shower, jumlah dan usia larva dalam satu hatchling container dapat dikontrol dan ditentukan. Frekuensi penggantian hatchling container dapat menentukan keseragaman kelompok larva. Semakin tinggi penggantiannya, semakin tinggi juga tingkat keseragaman larva-larva muda tersebut. Larva makan di hatchling container yang sama selama beberapa hari setelah menetas. 5 - DOL tersebut kemudian diambil dari hatchling container lalu dihitung. Sebagian besar larva kemudian ditransfer ke unit pengolahan BSF di mana 5 - DOL tersebut dimasukkan ke sampah.

Hatchling container di bawah hatchling shower diganti dengan yang baru dengan interval yang teratur
(setiap satu sampai tiga hari). Frekuensi tersebut menentukan keseragaman kelompok larva.

Karena menghitung larva-larva kecil tersebut terlalu rumit, maka jumlah 5 - DOL ditentukan dengan menghitung jumlah larva dalam sampel kecil (~2 g), yang kemudian diekstrapolasi berdasarkan berat total seluruh 5 - DOL 

Hanya sedikit dari keseluruhan 5 - DOL (sekitar 2- 5%) yang disimpan di unit pembiakan dan jumlah ini bergantung pada jumlah sampah yang akan diolah dan kinerja nursery. Jika tingkat kelangsungan hidup dinilai tinggi dan jumlah telur yang dihasilkan oleh setiap betina tergolong banyak, maka jumlah 5 - DOL yang perlu untuk disimpan dalam unit pembiakan semakin kecil. Larva-larva yang disimpan ini ditempatkan dalam nursery container di mana mereka terus diberi makanan dengan campuran yang baik sampai berubah menjadi prapupa dalam kurun waktu sekitar dua minggu. Semua larva di satu nursery container akan berubah pada waktu yang sama mengingat umur larva tersebut juga sama. Prapupa akan berusaha meninggalkan sumber makanan untuk mencari tempat yang kering yang lebih cocok untuk melakukan pupasi. Untuk itu, nursery container diletakkan dalam transfer container yang telah dilengkapi dengan bahan yang kering dan mampu menyerap air.

Pupasi
Prapupa yang telah keluar dan masuk ke transfer container lalu dipanen dan dipindahkan ke pupation container. Karena pupa merasa terganggu dengan adanya kelompok besar pupa lainnya, maka di kontainer tersebut terdapat substrat yang lembab dan seperti tanah (kompos) di mana prepupa dapat mengubur dirinya.

Untuk memfasilitasi proses pupasi, pupation container diletakkan di dalam kandang pupasi yang benar-benar gelap di bagian dalamnya. Kami menamakannya “dark cage” atau kandang gelap. Selain menyediakan lingkungan yang gelap, kandang ini juga melindungi pupa-pupa tersebut dari perubahan kondisi lingkungan (yaitu kelembapan, temperatur, pergerakan angin, dll.).

Setelah dua atau tiga minggu, material media pupasi menjadi sedikit kering. Hal ini memudahkan lalat-lalat untuk keluar dari kulit pupa menuju bagian atas dari tumpukan bahan tersebut dan kemudian terbang keluar dari pupation container, namun tetap berada dalam kandang gelap. Karena kondisi di dalam kandang yang gelap, lalat yang keluar tidak akan kawin, melainkan tetap diam tidak bergerak. Oleh karena itu, lalat-lalat di kandang gelap ini dapat dikatakan adalah sumber tetap penghasil lalat yang baru muncul, yang apabila dilepaskan di tempat terang akan segera bereproduksi.

Keluarnya lalat dimulai sepuluh hari setelah pupa dimasukkan kedalam kotak pupasi, lalu mengikuti kurva berbentuk lonceng dan diakhiri dengan beberapa lalat yang muncul setelah 25 hari.

Perkawinan
Setiap kali dibutuhkan, lalat yang keluar akan diambil dari kandang gelap. Hal ini dilakukan dengan cara menghubungkan kandang gelap ini dengan sebuah terowongan yang tidak gelap dan tergantung pada bingkai yang dapat dipindahkan. Karena merupakan tempat di mana perkawinan terjadi, maka kami menamakannya “love cage” atau kandang kawin (Gambar 12). Pencahayaan yang dipasang pada ujung terowongan akan menarik lalat untuk terbang dari kandang gelap ke kandang kawin. Kandang kawin secara berurutan dihubungkan dengan tiga sampai empat kandang gelap untuk mengumpulkan lalat yang baru keluar. Metode ini memungkinkan kepadatan lalat yang konstan dan stabil dalam kandang kawin. Selain itu, lalat-lalat yang telah diambil tersebut memiliki usia yang sama. Ada manfaatnya apabila di kandang perkawinan terdapat lalat-lalat yang berusia sama, yaitu lalat-lalat tersebut akan kawin dan bertelur pada waktu yang kurang lebih sama, dan oleh karena itu, jumlah telurnya akan bisa diprediksi sehingga pembiakan masal dapat dilakukan dengan lebih efisien. Kandang kawin dilengkapi dengan kain basah untuk menjaga agar lalat-lalat di dalamnya tidak kekurangan kelembaban. Selain itu juga ada eggies dan sebuah kotak berisi atraktan. Maka, di sini siklus pemeliharaan berakhir.

2.3.2 Penerimaan sampah dan unit pra-pengolahan
Larva pada umumnya sangat toleran terhadap jenis makanannya. Namun, tetap penting untuk memastikan apakah sampah organik yang diterima di fasilitas sesuai untuk dimakan oleh larva. Sebagian besar bahan organik dengan kandungan air sebanyak 60% sampai 90% dan dengan ukuran partikel yang spesifik pasti akan dicerna. Di Tabel 1 dapat dilihat daftar sampah organik yang menghasilkan pertumbuhan dan konversi biomassa yang baik. Larva sangat bergantung kepada mikroorganisme simbiotik yang menghancurkan struktur sel dan menyediakan nutrisi bagi larva. Namun, jika kualitas pakannya dibawah optimal, waktu perkembangan larva akan semakin lama, dan berat tubuh akhir larva akan lebih rendah. Maka sangat penting untuk memperhatikan hal-hal tersebut saat memandang fasilitas BSF dari sudut pandang ekonomi.

Panduan ini menggunakan asumsi bahwa “waste sourcing” atau pemetaan sumber sampah untuk fasilitas pengola- han sampah telah dilakukan dengan baik. Sampah organik harus benar-benar murni organik dan dapat diuraikan oleh bakteri/organisme hidup lainnya, serta harus memenuhi kriteria jenis-jenis sampah organik yang layak seperti yang telah disebutkan di atas.

Langkah pertama yang dilakukan setelah sampah diterima adalah mengecek kualitas sampah untuk memastikan tidak ada material berbahaya dan bahan non-organik yang terkandung di dalamnya. Beberapa kantung plastik yang ditemukan di dalam sampah mungkin bukan masalah besar karena dapat disortir dan dibuang secara manual. Namun, bahan berbahaya/kontaminan sama sekali tidak boleh ada karena dapat mempengaruhi seluruh organisme hidup: larva, bakteri-bakteri terkait, dan tentu saja para pekerja. Asam, pelarut, pestisida, deterjen, dan logam berat merupakan zat-zat yang termasuk dalam kategori berbahaya dan oleh karena itu harus dijauhkan apabila zat-zat tersebut berupa cairan atau larutan. Ini karena zat-zat tersebut dapat dengan mudah mengontaminasi bahan sampah secara kes- eluruhan. Jika sampah yang datang diduga mengandung kontaminasi tersebut, maka sampah tersebut harus ditolak.

Apabila kualitas sampah sudah dipastikan, langkah selanjut- nya adalah mengecilkan ukuran partikel sampah. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan mesin pencacah atau mesin palu pabrik (hammer mill). Teknologi apapun yang nantinya digunakan, alatnya harus dapat menghancurkan sampah menjadi partikel dengan ukuran diameter kurang dari 1-2 cm. Hal ini dapat membantu mempercepat proses karena bagian mulut larva tidak sesuai menghancurkan gumpalan sampah yang besar. Serta meningkatkan area permukaan dapat membantu perkembangan dan pertumbuhan bakteri yang berasosiasi dengan BSF.

Jika sampah yang dihancurkan memiliki kandungan air di atas 80% (sampah dengan kelembaban sebesar ini akan bertekstur seperti bubur, mirip dengan campuran buah yang dihancurkan dengan blender dapur), maka sampah tersebut harus dikurangi kadar airnya atau dicampurkan dengan sumber sampah lain yang lebih kering supaya kadar kelembabannya bisa kurang dari 80%.

Ada beberapa cara untuk mengurangi kadar air pada sampah. Cara yang paling sederhana adalah pengurangan kadar air secara pasif (dengan memanfaatkan gravitasi), di mana sampah dimasukkan ke dalam kantong kain yang berfungsi sebagai saringan. Airnya kemudian diperas sehingga turun ke ember di bawahnya. Teknologi lainnya adalah dengan menggunakan screw press horizontal atau sebuah cider press.

Jika kandungan airnya di bawah 70%, maka perlu ditambahkan air. Kadar air ini dapat ditentukan dengan cara meremas segenggam sampah. Jika hanya ada beberapa tetes air yang muncul di sela-sela jari, maka sampah tersebut terlalu kering. Apabila sampah kering ditambah kelembabannya dengan air, air yang digunakan harus aman, yang artinya tidak mengandung patogen, logam berat, maupun bahan lainnya yang dapat mengurangi kandungan nutrisi
dalam sampah.

Ketika sampah organik tiba di tempat, maka beratnya harus ditimbang untuk mengetahui jumlah sampah yang masuk ke fasilitas setiap harinya. Waktu yang paling baik untuk mengukur jumlah total sampah adalah setelah sampah dicacah/digiling karena setelah itu mungkin sampah tersebut akan disimpan di dalam kontainer untuk sementara waktu. Jika ternyata kadar air sampah harus dikurangi, maka sebaiknya pengukuran beratnya dilakukan sebelum dan sesudah proses pengurangan air. 

2.3.3 Unit pengolahan sampah dengan BSF
5 - DOL dalam jumlah tertentu dipindahkan setiap harinya dari unit pembiakan masal BSF ke unit pengolahan sampah dengan BSF yang berisi sampah (yang kami sebut “larvero”). Jumlah 5 - DOL yang ditambahkan di sini bergantung pada jumlah sampah organik yang ada pada sebuah area permu- kaan dan dalam volume tertentu.

Selengkapnya mengenai isi dari buku Panduan BSF - Proses Pengolahan Sampah Organik dengan BSF (Black Soldier Fly) ini, silahkan lihat atau unduh di bawah ini.



Download File:
Buku Panduan BSF - Proses Pengolahan Sampah Organik dengan BSF (Black Soldier Fly).pdf

Demikian informasi Panduan BSF - Proses Pengolahan Sampah Organik dengan BSF (Black Soldier Fly), semoga bermanfaat sebagai referensi tambahan dan menjadi jawaban terkait dengan cara budidaya maggot BSF, cara budidaya maggot BSF tanpa bau, contoh kandang BSF, budidaya maggot pdf, budidaya maggot BSF pdf, cara menetaskan pupa BSF, black soldier fly pdf, budidaya maggot dengan em4 dan lain-lain.

Belum ada Komentar untuk "Panduan BSF - Proses Pengolahan Sampah Organik dengan BSF (Black Soldier Fly)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel