Media Pakan untuk Ulat Hongkong (Mealworms) dengan Pollard, Gamblong, Sayur dan Buah

Pada posting sebelumnya tentang Beberapa Hal Penting Seputar Ulat Hongkong (Mealworms) dibahas mengenai Apa itu Ulat Hongkong (Mealworms)?, Apa Manfaat Ulat Hongkong (Mealworms)?, Bagaimana Siklus Hidup (Life Cycle) atau Metamorfosis dan Bagaimana Cara Terbaik untuk Ternak atau Budidaya Ulat Hongkong?.

Media Pakan Ulat Hongkong (Mealworms) dengan Polar, Gamblong, Sayur dan Buah
Media Pakan Ulat Hongkong (Mealworms) dengan Polar, Gamblong, Sayur dan Buah

Selanjutnya, kali ini kita akan membahas mengenai Media Pakan untuk Ulat Hongkong (Mealworms) dengan Pollard (Polar/Dedak Gandum), Gamblong (Ampas Ketela Pohon/Singkong/Onggok Tapioka), Sayur dan Buah.

Berikut ini ada sebuah tulisan berupa jurnal penelitian yang bisa kita jadikan sumber belajar mengenai apa saja yang bisa kita pilih untuk mempersiapkan bahan pakan, bahan media, serta bahan tambahan lainnya, dengan membandingkan beberapa bahan pakan dan media sehingga kita bisa mengambil kesimpulan bahan mana saja yang bisa kita anggap sebagai media dan pakan terbaik untuk beternak ulat hongkong. Jurnal penelitian ini berjudul Peningkatan Bobot Panen Ulat Hongkong Akibat Aplikasi Limbah Sayur dan Buah pada Media Pakan Berbeda. Di bawah ini beberapa kutipan teks/keterangan penting mengenai isi tulisan tersebut.

Pendahuluan
Ulat hongkong lebih dikenal dengan sebutan MealWorm atau Yellow MealWorm dan merupakan larva dari Tenebrio Molitor. Hewan ini fase hidupnya sama dengan jenis ulat yang lain, yaitu mulai dari telur, lalu menetas menjadi larva sampai mencapai ukuran maksimal, larva akan berubah menjadi pupa atau kepompong, dan fase terakhir menjadi serangga Tenebrio Molitor (Anonymous, 2013). Ulat hongkong dipanen pada umur 50 sampai 60 hari sejak menetas. Warnanya berwarna kuning dan tidak berbulu. Ukuran panjang tubuh larva dewasa bisa mencapai 33 mm dan berdiameter 3 mm (Anonymous, 2013, Haryanto, 2013). Ulat ini dijumpai pada toko pakan burung, ikan-ikanan, reptil dan ternak lainnya. Ulat ini sering dijadikan sebagai suplemen atau makanan utama pada hewan-hewan peliharaan dalam bentuk masih hidup maupun berbentuk pelet. Ulat hongkong di jadikan sebagai pakan favorit karena memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk hewan ternak. Kandungan nutrisi diantaranya protein kasar 48%, lemak kasar 40%, kadar abu 3%, kadar air 57%, serta kandungan ekstra non nitrogen 8% (Anonymous, 2013). Di pasaran, ulat hongkong dijual antara Rp 27.000 – Rp 40.000.

Pakan yang digunakan untuk ulat hongkong, umumnya masih menggunakan polar dan jenis konsentrat lain yang murah. Bahan konsentrat diperoleh dari limbah pertanian; gamblong, bekatul dan bahan lainnya. Selain itu, peternak juga menambahkan sayuran dan buah-buahan untuk meningkatkan bobot badan ulat hongkong. Dari semua bahan tersebut, belum diperoleh secara pasti standar kebutuhan nutrisi ulat hongkong. Kendala yang umumnya ditemui masyarakat adalah untuk memenuhi sayur dan buah, umumnya peternak masih sulit mendapatkannya dalam jumlah yang kontinyu dan terkadang peternak harus membeli. Padahal, ulat hongkong merupakan salah satu binatang yang cukup rakus makannya.

Kota Malang merupakan salah satu kota pendidikan di Indonesia yang memiliki populasi penduduk yang cukup padat. Jumlah populasi yang banyak menyebabkan menjamurnya berbagai bisnis rumah makan dan pasar-pasar yang menjual kebutuhan pokok dan sayuran. Sehingga, jumlah sampah setiap harinya sangat besar sekali. Hasil penelitian Haffandi (2013), jumlah gerobak yang masuk ke TPS dari jam 06.00 - 08.00 (2 jam) berjumlah 15 gerobak. Jumlah TPS yang ada di Kota Malang, yaitu 73 TPS maka diperkirakan berat sampah di seluruh TPS Kota Malang yaitu sebesar 33.769.800 gr (~33,8 t) dengan rata-rata berat sampah organik organik (wortel, sayuran hijau) sebesar 19.710.000 gr.

Salah satu solusi pemanfaatan sampah organik adalah dimanfaatkan sebagai pakan ulat hongkong, sebagai pakan alternatif yang murah dan jumlahnya melimpah dan kontinyu. Perbedaan jenis pakan yang diberikan untuk ulat hongkong menyebabkan perbedaan pada hasil panen dan bobot badan panen. Oleh karena itu, perlu diteliti penggunaan dari limbah sayuran pasar dan buah-buahan pada media pakan yang berbeda terhadap produksi ulat hongkong.

Sampah di Kota Malang belum adayang memanfaatkan dan rata-rata hanya diangkut oleh gerobak menuju TPA (tempat pembuangan akhir). Di TPA sampah ini dibiarkan saja dan jika menumpuk terlalu lama akan menyebabkan bau.

Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana pengaruh pemberian limbah sayuran pasar dan buah-buahan pada media pakan yang berbeda terhadap pertambahan bobot panen ulat hongkong.

Metode Penelitian

Tempat dan waktu
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2013 sampai Nopember 2013 di Laboratorium Inbis (Inkubator Bisnis) Universitas Tribhuwana Tunggadewi. Analisis proksimat dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Universitas Brawijaya Malang.

Materi
Ulat hongkong yang digunakan adalah berumur 15 hari, diperoleh dari peternak ulat hongkong di Dusun Patihan, Blitar. Pada awalnya ulat dibeli pada umur 8 hari, selanjutnya ulat diadaptasikan terhadap lingkungan wadah dan pakan hingga umur 15 hari.

Kandang dan fasilitas kandang
Kandang yang digunakan berupa kotak- kotak untuk menampung ulat hongkong dan pakan, terbuat dari nampan plastik berukuran panjang 35 cm dan lebar 20 cm. Kotak-kotak berisi ulat hongkong disusun dalam sebuah rak dan ditempatkan pada ruangan bersuhu 25–30 °C. Di sekitar ruangan kandang diberi paranet berwarna hitam agar ulat tidak terkena sinar matahari langsung. Di bawah rak diberi wadah berisi oli agar semut tidak naik ke nampan ulat hongkong.

Pakan dan ulat hongkong
Pakan yang digunakan dibedakan menjadi dua yaitu limbah sayur dan buah dan media pakan. Limbah sayur dan buah diperoleh dari Pasar Dinoyo Malang yang diambil setiap 2 hari sekali. Limbah sayur diambil secara acak sesuai dengan ketersediaan sehari-hari di pasar tersebut, contohnya sawi hijau, sawi putih, pokchay, kubis, manisa, wortel, kulit kentang. Limbah buah yang digunakan adalah limbah yang masih muda yaitu pepaya muda dan kulit nenas. Limbah sayur dan buah sebelum digunakan penelitian dicuci terlebih dahulu, dipisahkan dari sayur/buah yang busuk, kemudian sayur diiris atau dirajang dan dicampur semua sayur yang ada secara acak, sedangkan buah pepaya diparut menggunakan parutan keju/sawut dan kulit nanas diiris tipis. 

Media pakan terdiri dari 3 perlakuan yaitu polar (Cap Angsa), pakan formulasi 1 (campuran polar dan gamblong) dan pakan formulasi 2 (merupakan pakan susun sendiri yang terdiri dari jagung kuning, bekatul, konsentrat comfeed, minyak kelapa sawit, Usfa mineral dan bungkil kedelai) yang diperoleh dari Tanjung PS (Kota Blitar) dan UD Gangsar (Kota Batu).

Metode penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap terdiri dari 6 perlakuan dan diulang 4 kali. Adapun perlakuan yang digunakan adalah:
P1 = limbah sayur + polar (sebagai media pakan)
P2 = limbah sayur + media (pakan formulasi 2 = polar + gamblong)
P3 = limbah sayur + pakan formulasi
P4 = limbah buah + polar
P5 = limbah buah + media (pakan formulasi 2 = polar +gamblong)
P6 = limbah buah + pakan formulasi 2 

Prosedur penelitian

a. fase penelitian umur 15-25 hari
Larva ulat hongkong dibeli dari peternak ulat hongkong yang bernama Ibu Sri dari Dusun Patihan, Blitar. Ulat dibeli pada umur 8 hari yang dijual per kg termasuk bersama media pakan yaitu polar. Bentuk ulat masih sangat kecil sekali, yang hanya bisa dilihat ketika media diambil dengan tangan dan dilihat dari jarak yang sangat dekat. Selanjutnya ulat+polar ditimbang sejumlah ½ kg dan dimasukkan ke dalam 24 nampan yang sudah disiapkan secara acak, untuk memasuki masa adaptasi. Pada nampan diberi kode perlakuan. Pada saat umur 15 hari ulat+polar diayak untuk mendapatkan ulat, menggunakan ayakan seukuran saringan teh. Kemudian ulat ditimbang dan dimasukkan ke nampan yang sudah dibei media pakan perlakuan, yaitu polar, pakan formulasi 1 dan pakan formulasi 2 yang sudah ditimbang dengan berat yang sudah diukur. Ulat hongkong berumur 15 hari ditebar secara rata ke nampan perlakuan, sehingga jika dilihat ulat bisa tenggelam atau berada di dalam media. Sayur atau buah yang sudah ditimbang sebanyak 200 gr dimasukkan ke dalam nampan di atas permukaan media dan disebar rata. Setiap 2 hari sekali sayur atau buah diganti karena beberapa ada yang berair/benyek, demikian pula jika media habis segera diisi dengan media sesuai perlakuan dan ditimbang. Pada akhir umur 25, ulat ditimbang kembali. Sayur/buah sisa dan media sisa setiap penggantian media dan sayur/buah ditimbang sendiri-sendiri. Buah/sayur yang belum terlalu kering ditimbang dan dijemur hingga kering dan dicatat berat kering matahari. Dari sampel sayur/buah selama penelitian dan media sisa umur 25 hari yang sudah kering diblender secara terpisah agar homogen dan dimasukkan ke dalam plastik sesuai dengan perlakuan yang sama. Sampel sayur/buah dan media dibawa ke laboratorium untuk dianalisa bahan kering.

b. fase penelitian umur 25-50 hari
Pada umur 25 ulat ditimbang, di sini bobot ulat adalah bobot ulat untuk 1 populasi nampan. Ulat selanjutnya dimasukkan kembali ke dalam nampan perlakuan yang sudah diisi 3 jenis media. Pada fase ini mulai tidak memberikan sayur atau buah ke pada ulat. Bila media ulat mulai menipis yang ditandai banyak ulat yang kelihatan diluar, maka media ditambahi kembali (media ditimbang). Proses ini dilakukan hingga umur 50 hari. Pada umur ini merupakan tahapan panen dimana ulat sudah berukuran cukup besar dan merupakan umur panen bagi pemasaran ulat hongkong. Ulat dipisahkan dari media dengan cara diayak dan kemudian ditimbang serta dihitung jumlahnya untuk mengetahui berapa jumlah ulat dalam satu kali penimbangan. Dari berat ulat, diambil 5% secara acak untuk ditimbang per ekor dan diukur panjang badannya menggunakan jangka sorong digital dengan satuan milimeter. Sisa pakan ditimbang kembali. Media masing-masing perlakuan dibawa ke laboratorium untuk dianalisa bahan keringnya.

Variabel penelitian

a. Konsumsi pakan
Konsumsi pakan = pemberian awal – akan sisa.
Konsumsi pakan dihitung berdasarkan konsumsi bahan kering (BK) per larva per hari yang diukur 2 periode yaitu umur 15-25 hari dan 25-50 yaitu berdasarkan perlakuan pakan yang diberikan.

b. Pertambahan bobot badan (PBB)
PBB dari larva dilakuan 2 kali yaitu : PBB(mg/ekor) = (BB umur 25 – BB umur 15 hari) : jumlah ulat PBB(mg/ekor) = (BB umur 25 – BB umur 15 hari) : jumlah ulat

c. Panjang badan
Melakukan pengukuran panjang badan ulat hongkong (mm) dengan mengambil sampel secara acak (untuk perlakuan dan ulangan yang sama) sebanyak 5% dari berat badan total per perlakuan menggunakan jangka sorong digital dengan satuan milimeter.

d. Biaya pakan (Rp/ekor)
Konsumsi pakan dihitung berdasarkan konsumsi bahan kering (BK) yang dihitung dari total konsumsi BK umur 15 sampai 25 yaitu konsumsi BK sayur dan media dan ditambah dengan konsumsi BK media pada umur 25 sampai 50 hari. Selanjutnya dihitung biaya pakan berdasarkan biaya BK per ekor.

e. Income Over Feed Cost (IOFC)
IOFC = (BB panen per perlakuan x harga panen) – (konsumsi pakan per perlakuan x biaya pakan)

Analisa data
Data diuji secara statistik dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Apabila ada perbedaan yang nyata maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) (Yitnosumarto, 1993).

Hasil dan Pembahasan

Pengaruh perlakuan terhadap konsumsi pakan
Penggunaan polar sebagai pakan ulat hongkong sudah digunakan sejak lama. Bai dan Cheng (2003) melaporkan bahwa sebagian besar pakan utama yang digunakan di China adalah polar dan beberapa jenis sayur dan buah. Pada penelitian ini, jenis pakan yang diberikan dibedakan menjadi 2 tahapan yaitu pada umur 15–25 hari ulat diberi limbah sayur atau buah buahan pasar dan juga diberi media yang dibedakan menjadi 3 perlakuan yaitu polar (P1 dan P4), polar 57% + gamblong basah 43% (P2 dan P5), dan pakan formulasi PK 20% (P3 dan P6). Sedangkan pada umur 25-50 hari ulat hanya diberi media pakan saja atau tanpa diberi sayur atau buah. Jenis limbah sayur yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah sayur pasar yang diperoleh secara acak sesuai dengan kesediaan tiap hari seperti campuran dari kubis, sawi hijau, sawi putih, pokchai, wortel, kulit kentang dan manisa. Hal ini karena ketersediaan jenis sayuran ini paling banyak limbahnya. Sementara limbah buah yang digunakan adalah kulit nanas dan pepaya muda. Perhitungan konsumsi pakan didasarkan pada konsumsi bahan kering yang dihitung untuk setiap jenis pakan yang dikonsumsi ulat. Data konsumsi pakan pada setiap jenis pakan dan umur ulat dapat dilihat pada Tabel 3. Konsumsi sayur atau buah rata-rata adalah 2,14–49,27 mg/ekor/hari. Konsumsi media pakan (umur 15-25 hari) adalah 2,56–4,53 mg/ekor/hari. Konsumsi bahan kering sayur atau buah dan media adalah 5,29–62,08 mg/ekor/hari. Sedangkan konsumsi total bahan kering umur 15-50 adalah berkisar 3,72–70,19 mg/ekor/hari.

Berdasarkan perhitungan statistik, ternyata perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata (p<0,01) terhadap konsumsi sayur atau buah dan konsumsi bahan kering total selama penelitian. Akan tetapi, perlakuan tidak memberikan pengaruh (p>0,05) terhadap konsumsi BK media selama pemberian sayur atau buah dan konsumsi media ulat umur 25-50 hari.

Tabel 3 menunjukkan bahwa konsumsi limbah buah tertinggi diperoleh pada perlakuan P4 dan menurun pada perlakuan P6, sementara konsumsi bahan kering limbah sayur rata-rata lebih rendah. Akan tetapi, konsumsi limbah sayur atau buah ternyata tidak berpengaruh terhadap perlakuan P1, P2, P3, dan P5. 

Tabel 3. Konsumsi pakan tiap umur ulat hongkong (berdasarkan bahan kering)
Tabel 3. Konsumsi pakan tiap umur ulat hongkong (berdasarkan bahan kering)

Keterangan :
**a,b,c notasi yang berbeda menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang sangat berbeda nyata terhadap variabel (p<0,01)

A = konsumsi sayur atau buah pasar yang diberikan ketika ulat berumur 15-25 hari
B = konsumsi media (polar, polar+gamblong, pakan formulasi) yang diberikan ketika ulat berumur 15-25 hari
C = konsumsi media (polar, polar+gamblong, pakan formulasi) yang diberikan ketika ulat berumur 25-50 hari

Pada konsumsi buah, perlakuan P5 memperlihatkan konsumsi yang paling rendah dibandingkan perlakuan P4 dan P6. Hal ini disebabkan P5 mendapatkan perlakuan gamblong basah dan mengandung karbohidrat dan kandungan air yang cukup tinggi sehingga membatasi konsumsi limbah buah. Berdasarkan hasil perhitungan, bahan kering sayur rata-rata pada kondisi segar adalah 5,71%, sedangkan buah adalah 9,31%. Sementara kandungan gamblong segar adalah 20,86%, hal ini lebih rendah jika dibandingkan dengan polar yang kandungan BK nya 86,96% dan pakan formulasi (P3 dan P6) yang BK nya 84,35%. Tingginya konsumsi bahan kering buah diduga karena kandungan protein kasar (PK), serat kasar (SK), lemak kasar (LK), dan energi buah yang lebih rendah dibandingkan sayur. Sehingga hal ini juga menyebabkan konsumsi media yang juga tinggi. Hasil penelitian sampel pada Tabel 4, polar cap angsa mengandung protein dan energi yang cukup tinggi. Hal ini didukung oleh penelitian Sitompul (2006) yaitu semakin tinggi kandungan polar semakin tinggi pula konsumsinya.

Konsumsi bahan kering yang rendah terhadap sayur disebabkan kandungan nutrisi yang tinggi, yaitu abu, protein, lemak, dan energi dibandingkan dengan buah (Tabel 4) sehingga menyebabkan konsumsi media pakan juga rendah. Hal ini karena komposisi campuran jenis sayur yang beragam. Sayur atau buah selain berfungsi sebagai sumber air bagi ulat hongkong, juga berfungsi sebagai sumber nutrisi tambahan (Haryanto, 2013). Oleh karena itu keberadaannya sangatlah penting. Masing-masing peternak biasanya menggunakan sumber air yang berbeda bagi ulat. Umumnya digunakan buah atau sayur yang masih mentah, seperti pepaya muda, manisa dan sebagainya. Namun keberadaan bahan tersebut untuk tiap daerah berbeda. Sehingga bila tidak ada maka peternak harus membelinya. Penggunaan limbah sayur atau buah pasar pada penelitian ini cukup murah karena tidak diperlukan biaya untuk membelinya, tinggal mengambil di pasar karena merupakan limbah yang tidak dapat dijual lagi. 

Tabel 4. Kandungan zat makanan
Tabel 4. Kandungan zat makanan
Tabel 4. Kandungan zat makanan
*) Berdasarkan 100% bahan kering

Ket: a. Hasil analisa di Lab. Nutrisi dan Makanan ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (2013)
b. Niswi (2012)

Pada umur 25-50 hari, merupakan fase pertumbuhan dan pembesaran bagi ulat hongkong. Pada umumnya ulat akan dijual oleh peternak pada umur 50–60 hari. Tabel 2 terlihat bahwa konsumsi bahan kering tertinggi dihasilkan oleh perlakuan P4 dan diikui P6. Hal ini diduga karena kandungan protein dan energi dari masing-masing media pakan perlakuan tersebut yang tinggi sehingga dapat memacu pertumbuhan dari ulat hongkong. Selanjutnya perlu dilihat apakah konsumsi bahan kering ini berkorelasi positif dengan pertambahan bobot badan.

Pengaruh perlakuan terhadap pertambahan bobot badan, bobot badan dan panjang badan umur 50 hari, serta biaya pakan
Bobot badan diamati pada 2 fase umur yaitu umur 25 dan umur 50 hari. Hal ini dikarenakan jenis pakan yang diberikan pada 2 fase tersebut berbeda. Selanjutnya ingin diketahui apakah dari pertambahan bobot badan umur 25 sebagai akibat dari pemberian sayur atau buah akan berkorelasi dengan pertambahan bobot badan hingga umur 50 hari. Berikut disajikan data pertambahan bobot badan, bobot badan dan panjang badan umur 50, serta biaya pakan yang dihabiskan (Tabel 5).

Tabel 3 dapat dilihat bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh terhadap pertambahan bobot badan, bobot badan dan panjang badan ulat. Akan tetapi perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata (p<0,01) terhadap biaya pakan. Pada pengamatan ulat umur 15-25 hari, dapat dilihat bahwa PBB tertinggi dihasilkan oleh P3, P6 dan selanjutnya P2. Sementara pada umur 25-50 hari PBB tertinggi dihasilkan pada perlakuan P5.

Dari total PBB selama penelitian, diperoleh hasil bahwa perlakuan P2 dan P5 memberikan hasil PBB tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya dan selanjutnya diikuti oleh perlakuan P3. Hal ini menunjukkan bahwa kombinasi polar dan gamblong mampu meningkatkan bobot badan yang paling bagus pada semua penambahan sayur atau buah, walaupun jika diamati hasil tertinggi dicapai pada penggunaan buah. Hasil ini tidak berkorelasi dengan konsumsi bahan kering (Tabel 3). Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi bahan kering yang tinggi tidak selalu berkorelasi dengan PBB yang tinggi bagi ulat hongkong. 

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gamblong dapat meningkatkan palatabilitas ulat hongkong.
Palatabilitas adalah tingkat kesukaan yang ditunjukkan oleh ternak untuk mengkonsumsi suatu bahan pakan yang diberikan dalam suatu waktu tertentu.
Selain itu, diduga bahwa dalam pertumbuhan, ulat hongkong juga membutuhkan sejumlah air yang ternyata harus disuplai dari pakan. Penggunaan sayur atau buah dan gamblong, selain berfungsi sebagai sumber nutrisi juga menyumbang sejumlah air yang diperlukan ulat. Hal ini sejalan dengan penelitian Marlanti (2006) kelembaban yang rendah mengakibatkan serangga kehilangan air tubuh lebih banyak dari pada kelembaban yang tinggi, sehingga kebutuhan air meningkat. Air yang dibutuhkan tubuh ulat hongkong diperoleh dari pakan yang dikonsumsi. Dalam penelitian ini, pengamatan kelembaban harian berkisar antara 50-60% dengan suhu lingkungan 24-29%. Penelitian Marlianti (2006) dilaporkan bahwa pada kelembaban 69% konsumsi ulat umur 46-55 sebanyak 10,4 mg/ekor/10 hari dan umur 56-65 hari sebanyak 12, 43 mg/ekor/10 hari, sedangkan kelembaban 71% sebanyak 6,49 mg/ekor/10 hari (umur 46-55 hari) dan dan 11,68 mg/ekor/10 hari (umur 56-65 hari). Bursell (1970) menyatakan bahwa serangga dapat kehilangan air tubuhnya melalui transpirasi dan ekskresi. Aplikasinya ulat yang dipelihara dalam kelembaban yang lebih rendah akan mengkonsumsi pakan lebih banyak. Onggok juga mengandung gross energy yang bisa memenuhi kebutuhan ulat hongkong dikarenakan mengandung karbohidrat mudah larut dari pati ketela, sehingga diduga kecernaannya bahan ini cukup tinggi. 
Gross Energy (GE) adalah total energi yang dilepaskan sebagai panas ketika bahan pakan (zat) dioksidasi secara komplit menjadi CO2 + H2O.

Tabel 5. Pertambahan bobot badan (PBB) sesuai tahapan umur, bobot badan dan panjang badan umur 50 hari, serta biaya Pakan

Tabel 5. Pertambahan bobot badan (PBB) sesuai tahapan umur
Tabel 5. Pertambahan bobot badan (PBB) sesuai tahapan umur
Keterangan: **a,b,c,d notasi yang berbeda menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang sangat berbeda nyata terhadap variabel (p<0,01)

Tabel 3 dapat dilihat bahwa perlakuan ini memberikan PBB yang cukup tinggi dibandingkan dengan perlakuan polar saja pada pengamatan umur 15-25 namun tidak terlalu berbeda nyata ketika berumur 25-50 hari. Diduga kandungan nutrisi yang paling tinggi (PK 20, 197%) dibandingkan perlakuan lainnya ternyata sangat mendukung kebutuhan ulat saat masih kecil. Umur 25–50 hari ulat memasuki fase pertumbuhan bobot badan yang cukup cepat, maka membutuhkan pakan dengan kandungan energi yang lebih besar, akibatnya perlakuan dengan campuran gamblong menunjukkan PBB yang cepat dibandingkan perlakuan media lainnya.

Keseluruhan dari bobot badan rata-rata/ekor umur 50 hari lebih tinggi jika dibandingkan hasil penelitian Sitompul (2006) yaitu 13,69 mg/ulat dengan panjang badan 13,07 mm/ulat dimana dengan menggunakan pakan komersial yaitu kombinasi dedak padi, onggok, dan polar. Bobot badan umur 50 hari tertinggi dihasilkan pada perlakuan P5 dan P6, namun ini merupakan bobot badan rata- rata. PBB tertinggi untuk umur 15 hingga 50 hari dicapai oleh perlakuan P2 dan P5. 

Tabel 6. Biaya pakan selama penelitian dan IOFC
Tabel 6. Biaya pakan selama penelitian dan IOFC
Tabel 6. Biaya pakan selama penelitian dan IOFC
Ket: tanda (-) berarti dalam penjualan mengalami kerugian Pengaruh perlakuan terhadap Income Over Feed

Untuk mencari standar yang sama dengan penghitungan pakan dari semua perlakuan maka biaya pakan adalah berdasarkan perhitungan biaya konsumsi bahan kering dari media, sedangkan nilai biaya dari sayur/buah adalah nol rupiah karena bahan ini tidak perlu membeli. Berikut disajikan IOFC dari 1 populasi ulat pada tiap nampan pemeliharaan (Tabel 6).

Harga jual ulat hongkong rata-rata Rp 27.000/kg. Tabel 6 dapat dilihat ternyata perlakuan menggunakan kombinasi gamblong dan polar memberikan hasil tertinggi terhadap nilai IOFC. Hal ini disebabkan harga gamblong yang murah yaitu Rp 1000 per kg berat basahnya.

Gamblong merupakan limbah dari ketela yang juga digunakan untuk pakan sapi. Hal ini berkorelasi dengan PBB perlakuan ulat yang menggunakan polar plus gamblong.

Walaupun dilihat dari keseluruhan, bahwa perlakuan P6 mampu menghasilkan PBB dan bobot badan yang tinggi pada umur 50 hari, namun biaya pakannya cukup mahal, hal ini dikarenakan biaya per kg dari pakan formulasi ini adalah Rp 4271/kg/BK, sedangkan polar Rp 2261/kg/BK, dan polar+gamblong Rp 2382/kg/BK. Oleh karena itu, dari segi bobot badan dan nilai ekonomis hasil terbaik adalah P2 dan P4 yaitu penggunaan sayur atau buah dengan menggunakan media polar plus gamblong. 


Kesimpulan
  1. Perlakuan limbah sayur dengan media polar dan gamblong mampu menghasilkan pertambahan bobot badan dan income over feed cost (IOFC) tertinggi.
  2. Penggunaan campuran pakan dengan gamblong mampu meningkatkan IOFC pada semua penggunaan limbah sayur dan buah.

Daftar Pustaka

Anonymous. 2013. Berita Ulat Hongkong. http://ulathongkong.webs.com/. Diakses tanggal 1 Maret 2013

Bai, Y. Y. and Cheng, J. A. 2003. Nutritive value  and  rearing  methods  of  Tenebrio molitor  in  China,  Entomol.  Knowl.  40 (2003) 317–322. (In Chinese).

Bursel,  E.  1970.  An  Introduction  to  insect Physiology. Academic Press. New York Haffandi, L. 2012. Analisis Sampah Organik dan  Anorganik  Di  TPS  Kota  Malang. http://linda- haffandi.blogspot.com/2013/03/analisis-sampah-organik-dan-anorganik.html. Diakses tanggal 4 Maret 2013.

Haryanto, A. 2013. Budidaya Ulat Hongkong. DAFA Publishing. Surabaya.

LeYuan  Li,  ZhiRuo  Zhao  and  Hong  Liu. 2012. Feasibility of feeding yellow mealworm (Tenebrio molitor L.) in bioregenerative life support systems as a source of animal proteinfor humans. Acta Astronautica.  Accepted  13  March  2012. 2012 Elsevier Ltd. All rights reserved. 

Marlanti,  A.  2006.  Performa  Ulat  Tepung (Tenebrio Molitor L.) Pada Suhu dan Kelembaban Yang Berbeda. Skripsi. Program Studi Teknologi Produksi Ternak. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

Niswi. 2012. Efek Persentase Protein Pada Ransum Ayam Kampung Terhadap Kecernaan Protein. Skripsi. Program Studi Peternakan. Fakultas Pertanian. Universitas Tribhuwana Tunggadewi. Malang.

Sitompul, R. H.S. 2006. Pertumbuhan dan Konversi Pakan Ulat Tepung (Tenebrio molitor, L.) pada Kombinasi Pakan Komersial dengan Dedak Padi, Onggok, dan Pollard. Skripsi. Program Studi Teknologi    Produksi    Ternak.    Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

Belum ada Komentar untuk "Media Pakan untuk Ulat Hongkong (Mealworms) dengan Pollard, Gamblong, Sayur dan Buah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel